S a S

| You have been good to me | You have been gracious | You have been faithful | I have been given so much I can't even | Still I believe there is more | I open my hands to receive all that Your love has in store | Father, I know there is more | Power to heal and restore | Miracles wonders blessings unnumbered | Love never-ending | Love overflowing | You are bestowing, day after day after day |
♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥ ♥ ♥ ♫ ♪ ♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ † L♥ve Inside † ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫ ♪ ♫ ♥ ♥ ♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫

Selasa, 08 November 2016

Hujan

Hari ini hujan begitu deras di Dramaga. Petir pun tak kalah ingin bersahut-sahutan di tengah riak air. Aku berjalan menyusuri aspal tanpa menghiraukan gempitanya menghantam atap rumah dan atap payungku.
Ternyata hari ini adalah hari wisuda Diploma IPB, seperti biasa banyak orang yang berdagang bunga. Dan aku pun baru menyadari bahwa wisuda kali ini diselenggarakan pada hari Selasa. Mengingat momen wisuda saat aku S1 dulu, hujan deras turun sesaat sebelum prosesi selesai. Sepengalaman saya selama beberapa kali menghadiri wisuda kakak tingkat dalam 5 tahun, tidak pernah hujan turun tepat saat acara foto-foto setelah kuncir dipindahkan.
Agak berbeda dari momen wisuda sebelumnya, bunga-bunga dagangan mereka banyak yang tersisa.Hujan yang turun sebelum pukul dua membuat mereka tidak bisa pulang ke rumah. Bahkan saya mendapati mereka tidur beralaskan sebuah kantong plastik di jalan yang biasa dilalui mahasiswa, di bangunan kampus, menunggu hujan reda pikirku. Aku sangat terharu melihat perjuangan mereka, mereka pastilah seorang ibu dari anak-anak yang dinafkahi.
Aku suka hujan.
Karena hujan, pinggiran toko dipenuhi orang-orang. Karena hujan semuanya menjadi basah. Karena hujan, ayam yang berkeliaran menjadi terlihat lucu karena bulu mereka akan menjadi terlihat layu. Karena hujan, orang-orang menjadi kedinginan, lapar dan jualan pedagang gorengan, soto, bakso dan lainnya menjadi laris manis (beberapa minggu yang lalu, kami membeli gorengan di pinggir jalan karena terjebak macet dan hujan saat di Bandung). Karena hujan, pedagang bunga bersatu dengan pengunjung wisuda  dan karena hujan aku menjadi sedikit melankolis dan dapat membuat tulisan ini. Terimakasih hujan. Terimakasih Sang Pencipta hujan.
November (Rain) 8th, 2016
-Bersama teman saat hujan (KRB, 14 Agustus 2016)-

Minggu, 05 Juni 2016

Slowly, year by year, I learned how to overcome difficult situations with my Almighty~


Selasa, 29 Maret 2016

Menjadi tua

Seketika aku takut menjadi tua...

Hari ini aku sedang mengerjakan tugas sambil mendengarkan lagu.
Lagu ‘Endless Love’ secara tiba2 membuatku teringat akan bapak. Ya, bapakku..
Tadi pagi aku me’misscall’ dia dan tak lama dia meneleponku balik. Sebenarnya miscall itu tak sengaja terjadi karena aku sedang mengatur kontak di telepon genggam.
Kami berbicara tidak lebih dari 5menit. Dalam pembicaraan itu, terjadi satu hal yang tak pernah terlintas dipikiranku untuk bapakku lakukan. Hal ini pernah melintas dipikiranku kala dulu, tapi mustahil bapakku melakukannya karena dia bukan sosok yang bisa bercanda sedemikian rupa.
Tanpa kuduga, saat bertanya apa yang sedang dia lakukan, dia membuat lelucon yang belum pernah dialakukan. Saat itu dia sedang menggoreng ubi untuk sarapannya. Saat berbincang-bincang perihal yang lain dan aku hendak mengakhiri pembicaraan kami saat itu, dia mengatakan bahwa apa yang dia masak sungguh enak. Dia bilang, “Cok cium, enak kali bah...” (kembali aku menangis, karena aku masih ingat seperti apa rasa sup dan sambal ikan teri masakannya), aku merindukan masakan itu, namun kini akulah yang seharusnya memasak untuknya.
Bapakku adalah orang yang sangat rajin, saking rajinnya aku kesal karena dia kerap membangunkan kami pukul 5 pagi, bahkan sebelum jam segitu. Dan hal ini mengingatkanku pada masa kecil kami dulu di rumah bibiku. Jika ada hal2 yang ingin kami lakukan bersama pada pagi itu, kami memintanya untuk membangunkan kami berdua (aku dan kakak kedua). Tak jarang kami beribadah di tempat yang berbeda, kami di GKPS, sedangkan bapak di KHBP. Sepulang gereja, kami berbincang-bincang tentang banyak hal, sebab kami juga memiliki limit waktu untuk bersama dengannya tiap akhir pekan. Aku dan kakak sangat menanti-nantikan kedatangannya setiap sabtu petang, bukan hanya karena kami merindukannya dirinya, tetapi setiap buah tangan yang dia bawa membuat kami dan bibi bahagia. Sebenarnya berat bagi dia untuk meninggalkan kakak tertua, namun dia juga merindukan kami pastinya. Sering setelah kepulangannya aku berlari ke kamar dan berdiam di tempat tidur sembari menangis.
Saat dia mengatakan masakan itu enak, dia menyuruhku untuk mencium aroma masakannya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi... Aku tahu ini leluconnya. Dan spontan aku katakan, “Iya Pak, enak kali ya?!.” karena di saat yang sama pula aku mencium aroma masakan yang datangnya mungkin dari ibu kostku. Momen yang sangat indah-mengalami apa yang dia katakan sekalipun kami berada di dimensi ruang yang berbeda.
Aku ternyata selama ini salah mengenal dirinya. Sering aku ‘menyuruhnya’ untuk tertawa di telepon dan dia melakukannya, sehingga kami jadi tertawa bersama (benaran). Aku baru menyadari, rupanya dia juga ingin memiliki kehangatan seperti yang orang lain miliki.
Aku membayangkan diriku ada di dalam pernikahanku yang entah dengan siapa. Saat itu aku bisa merasakan betapa pedihnya hatiku ‘meninggalkan’ dia. Aku tak kuasa membendung air mata saat membayangkan dia memberikan aku, puterinya, yang dia kasihi kepada pria lain untuk dijaga.
Jika aku berada jauh darinya, siapa yang akan merawatnya? Dia sudah terlalu lama sendiri. Aku pun mungkin tak mampu terus ada bersama-sama dengan dia sekalipun aku berharap demikian.
Kami bukanlah orang yang cocok saat bersama, namun aku seringkali menyimpan rindu yang teramat dalam dan tak kuasa menahan air mata saat aku merindukannya dan mengingat dia di kala aku sakit.
Aku berdoa pada Bapa supaya dalam masa tua bapak, jiwa dan imannya Tuhan yang genggam erat.
Aku mengasihimu, bapakku...
Tuhan yang pelihara saat engkau jauh dari pandanganku, saat masa tua dan sampai memutih rambutmu.

March 28th, 2016 3.27 pm

Jumat, 05 Februari 2016

EF (Eclipse Firework)

4.49 a.m
Hari ini aku kembali bermimpi sesuatu yang indah. Ini adalah mimpi indah ketiga yang pernah aku alami. Sebenarnya ini mimpi kedua karena dua mimpi sebelumnya aku alami di tidur yang sama dan juga telah banyak mimpi-mimpi indah lain yang pernah aku alami. Mimpi yang pertama dan ketiga aku lupa apakah pernah menuliskannya, namun aku pernah menceriterakannya. Hingga sekarang aku mengingat mimpi itu dengan jelas.
Beginilah mimpi yang ketiga ini (menurut urutannya). Aku berada di rumah namboruku, tempat di mana aku dibesarkan dan mengenal ‘SaTe’ untuk pertama kalinya-waktu itu aku sangat polos. Entah mungkin oleh karena pemberitaan gerhana matahari yang akan terjadi  2 bulan setelah penulisan cerita ini aku memimpikannya. Aku memiliki kakak kelas di IPB, satu angkatan di atas saya, namanya Eko Sipraphua Sijabat, sebut saja Bang Eko atau Eko, tapi bukan Pak Eko (pahe-paket hemat di salah satu rumah makan cepat saji). Bang Eko ini menge-post thought-nya di Path tentang gerhana. Entah kenapa hal ini memasuki alam bawah sadarku. Aku menyukai fenomena alam, khususnya fenomena di cakrawala langit. Bahkan aku ingin sekali dapat melihat Aurora Bourealis yang ada di Swedia. Aku tidak tahu apakah aku bisa menggapai kerinduanku ini. Harapanku, aku bisa melihatnya sebelum aku mati nanti. Amin.
Kira-kira malam jam 10-an kami sedang berada di teras depan dan aku menyadari melihat sebuah bulan yang bersinar sangat terang. Malam ini pun sebelum jam tidur aku melihat bulan begitu terang dan bersih. Ini adalah bulan yang sangat jernih yang aku lihat semenjak kedatanganku ke kota hujan ini Agustus tahun lalu. Jadi di dalam mimpiku pun terjadi hal yang sama. Namun tiba-tiba aku melihat sesuatu yang gelap menutupi cahaya itu sehingga yang terbentuk adalah cincin bulan. Aku sangat kecewa karena aku melihat bulan itu tertutup, namun aku juga senang karena bisa menyaksikannya. Aku melihat kejadian itu bersama dengan sepupuku, kami sungguh menikmatinya. Setelah beberapa lama saatnya, tetangga di depan rumah juga turut keluar rumahnya untuk menyaksikan hal itu, akhirnya si bulan sedikit terabaikan. Tiba-tiba keponakanku, anak sepupuku, menangis kenncang. Sepupuku bilang supaya aku menutup pintu rumah karena fenomena gerhana ini,begitu aku menyebutnya, menghasilkan sebuah suara yang tidak mengenakkan di telinga anak bayi. Beberapa pandangan teralihkan oleh menutup pintu dan tetangga.
Oleh karena hal ini adalah langka, maka seperti di mimpi sebelumnya, aku sibuk mencari kamera dan ingin mengabadikannya. Akhirnya aku memotret beberapa pergeseran cincin, setelah itu aku mematikan kameranya dan hendak berbalik masuk ke dalam rumah. Secara tiba-tiba, saat gerhana akan selesai, aku mendengar suata dentuman, sungguh nyaring. Dentuman itu adalah suara kembang api yang berasal dari gerhana itu. Jadi, ceritanya gerhana itu berubah menjadi percikan kembang api yang sungguh indah. Aku tidak sempat berpikir “What’s going on?” karena aku sungguh terpana. Begitu terperanjatnya aku sampai-sampai aku lupa bahwa hal yang sangat baik ini sangat luar biasa jika kembali direkam atau difoto. Oleh karena itu aku buru-buru ingin memotretnya. Saking tak mau melewatkan fenomena lanjutan gerhana ini, aku tak jadi melakukannya. Perlu dicatat bahwa kamera milikku sangat jadul, di mana untuk membuatnya berada pada posisi “on” memakan waktu yang lumayan. Karena aku tau akan lama, sedangkan kembang api itu hanya akan sebentar, alhasil tak ada yang aku lakukan selain terkesima dengan apa yang ada di depan mataku, begitu indah, semarak, terang dan penuh warna. Setelah mimpi itu aku terbangun.
Sekian cerita mimpi itu.
Setelah bangun dengan ingatan mimpi itu di memoriku, aku memulai ’SaTe’ku dengan berdoa di pembaringanku. Judul hari ini “Kaki yang terkelupas dan Lutut yang luka”, sungguh judul yang memilukan. Seusai membaca keseluruhan perenungan dan referensi yang ada di sana, aku menemukan kalimat “pikul salib”. Salib diterjemahkan sebagai banyak hal. Karena aku ingin lebih rinci akhirnya aku membuka “Sabda” (http://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Salib) untuk mencari artinya. Tepat pada bacaanku ini, merujuk pada [Lambang], salib memiliki arti: kadang-kadang sebagai METAFORA, segala pencobaan berat dan menyakitkan, yang dijatuhkan Allah untuk menguji iman kita. Saat membaca ini tanpa terasa aku menitikkan air mataku. Betapa Tuhan ingin mengingatkanku akan sebuah perjalanan menuju “masa depanku”.
Salib itu sering kali menyakitiku. Sama seperti Petrus yang mendambakan sukacita, kebahagiaan dan kemahsyuran, aku pun mendambakannya, terutama di dalam keluargaku. Bagiku, menjadi Kristen adalah sebuah pilihan yang membawa kita pada salib yang menuju kemuliaan, sama seperti yang Kristus alami-hanya saja kita tidak menanggung dosa, sebab semuanya telah selesai Dia kerjakan. Yang kita tanggung sekarang adalah pergumulan yang menyangkut jiwa-jiwa dan menjadi garam dan terang. Salib memimpin pada sebuah jalan hidup yang penuh rintangan, namun melalui Ibrani 12:2 aku diingatkan bahwa Yesus mengabaikan kehinaanNya dan Dia TEKUN memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagiNya. Entah bagaimana caranya Yesus bisa menemukan sukacita pada salib yang sangat membebaninya itu sementara aku berusaha menghidarinya, bila perlu aku menolak salib itu. Sekarang aku telah mengetahui, tidak hanya melalui kitab para nabi namun juga mengimani, Yesus kini berada di takhta kemuliaanNya.

Ternyata apa yang kudambakan di atas, sama sekali tidak pernah dihalangi oleh Bapa. Bahkan Dia ingin sekali supaya aku bisa memperoleh dan memiliki semuanya itu, hanya saja hari ini Dia mengajarkanku bahwa aku bisa mendapat semuanya, bahkan lebih, yaitu duduk bersama-sama dengan AnakNya, jika dan hanya jika aku memikul salib yang telah ditentukan bagiku. Aku tidak boleh menyerah pada kenyataan hidup ini melainkan aku harus melaluinya bersama salibku itu. Aku tersadar bahwa selama ini aku berada pada hari-hari yang sulit karena aku menyerah pada salibNya. Sukacita itu bukan terletak pada salib, melainkan tujuan akhirku. Dahulu aku belajar bahwa Tuhan menginginkan aku dibentuk melalui proses, namun sekarang Dia telah mengingatkanku akan “Finish”, di sanalah terletak sukacita itu. Sama seperti seorang pelari yang melewati semua rintangannya demi kemenangan di akhir. Kini aku akan mencari dan memandang tujuan Allah, yakni “masa depan” melalui salibku hari demi hari hingga aku beroleh masa bersama Dia, muka dengan muka.
Mungkin aku tidak akan melihat pelangi sehabis hujan, melainkan kembang api setelah gerhana. J
January 23rd, 2016

Jumat, 15 Januari 2016

Kekasihku

11.12 am
Aku mencoba menulis tentangmu namun aku tak mampu.
Sebenarnya sama sekali tidak ada perasaan yang kubawa ke dalam hati ini untuknya.
Kekasihku telah datang menemuiku namun aku terlalu takut untuk jatuh cinta padanya.
Tak ingin kukhianati dirinya walaupun aku sendiri juga tidak tahu bagaimana jujur hatinya.
Mungkin dia bukan yang pertama tapi aku mau dia menjadi yang terakhir bagiku.
Seperti berlari jauh dan dihempas ombak, tak ada jejak dan tinggal riak.
Mungkin aku terlalu jauh baginya.
Aku ingin dia tetap ada di sisiku tapi kenyataan hidup memberi jarak di antara kami.
Hanya rindu yang membayang.
Pulang pun terkadang.
Semuanya menjadi renggang.
Rasa sayang menghilang.
Benci yang menghadang.
Aku harap ia segera datang.

January 9th ,2016

Kamis, 07 Januari 2016

Taman Bunga Nusantara

These are some picture of ours:

1. Pertama tiba sangat excited dan langsung foto keluarga, hahaha...


2. Melihat rute dan luasnya taman serta teriknya matahari beberapa pasang muka tak sedap.


3. Di tempat yang memiliki kanopy ini sejenak kami ber-adem ria dan pose dengan setil style masing-masing.


4. Membelakangi patung Dewi Kunti di gazebo Danau Angsa. Kami menjadikannya latar foto keluarga kami yang kedua :D


5. Mengadopsi quote yang pernah dibuat oleh seseorang, timbullah foto ini. Mutasem mengambil foto Merry dan Janet mengambil foto mereka berdua, di belakangnya Lenny (saya) mengambil mereka semua.
Quote itu berbunyi seperti ini: "He look at her but she look at him (another man)."
Quote foto ini: She took his photo but he took her (another woman) photo. And I took their photos. Hahaha.. *crazy me


6. Foto keluarga terakhir di dalam rumah kaca dengan 3.000 panel kaca. Woow...


7. Di lokasi piknik yang tidak dipakai untuk piknik, tapi dipakai untuk berfoto dan bermain kasti dengan buah dari Pohon Kigelia yang berbuah seperti ubi atau sosis ukuran jumbo.


Ada satu pengalaman yang tak kami sangka terjadi di tempat ini, saat kami pertama kali tiba. Pengalaman ini hanya untuk konsumsi kami semata. Tapi kami sangat bersyukur atas pengalaman ini.

Jalan-jalan ini juga meninggalkan kesan yang luar biasa. Berbagi cerita tentang kepercayaan masing-masing dan kami ditilang polisi saat pulang.

Perhatikan baik-baik perubahan wajah dari foto ke foto. Hahaha...

Thanks to all contributor;
Beny, Diego, Gabriello, Janet, Lenny, Loretta, Merry, Mutasem and Waheed.
Thanks to Merry for the camera and also being ojek. :D