S a S

| You have been good to me | You have been gracious | You have been faithful | I have been given so much I can't even | Still I believe there is more | I open my hands to receive all that Your love has in store | Father, I know there is more | Power to heal and restore | Miracles wonders blessings unnumbered | Love never-ending | Love overflowing | You are bestowing, day after day after day |
♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥ ♥ ♥ ♫ ♪ ♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ † L♥ve Inside † ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫ ♪ ♫ ♥ ♥ ♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫

Selasa, 07 Maret 2017

Semua akan pergi

12.51 a.m.
Semua tidak lagi sama semenjak satu-persatu pergi.
Semuanya berubah.
Tidak ada lagi orang-orang yang ada dalam masa kecilku, aku tidak menjumpai mereka lagi.

Saat aku kecil dan remaja, mereka ada di sekitarku.
Saat aku beranjak dewasa, mereka pergi satu persatu.

Baru saja rasanya kemarin aku berbicara dengan mereka
Bahkan teringat jelas apa yang terjadi saat itu.
Namun kini aku mendapatinya telah tiada.

Betapa hidup itu singkat, kematian adalah suatu misteri.
Kelak aku akan juga akan pergi, menghadap Dia, Penciptaku.
Cepat atau lambat, aku akan ke tempat yang mereka tuju.

March 7th, 2017
Ompung Datok :')


Selasa, 08 November 2016

Hujan

Hari ini hujan begitu deras di Dramaga. Petir pun tak kalah ingin bersahut-sahutan di tengah riak air. Aku berjalan menyusuri aspal tanpa menghiraukan gempitanya menghantam atap rumah dan atap payungku.
Ternyata hari ini adalah hari wisuda Diploma IPB, seperti biasa banyak orang yang berdagang bunga. Dan aku pun baru menyadari bahwa wisuda kali ini diselenggarakan pada hari Selasa. Mengingat momen wisuda saat aku S1 dulu, hujan deras turun sesaat sebelum prosesi selesai. Sepengalaman saya selama beberapa kali menghadiri wisuda kakak tingkat dalam 5 tahun, tidak pernah hujan turun tepat saat acara foto-foto setelah kuncir dipindahkan.
Agak berbeda dari momen wisuda sebelumnya, bunga-bunga dagangan mereka banyak yang tersisa.Hujan yang turun sebelum pukul dua membuat mereka tidak bisa pulang ke rumah. Bahkan saya mendapati mereka tidur beralaskan sebuah kantong plastik di jalan yang biasa dilalui mahasiswa, di bangunan kampus, menunggu hujan reda pikirku. Aku sangat terharu melihat perjuangan mereka, mereka pastilah seorang ibu dari anak-anak yang dinafkahi.
Aku suka hujan.
Karena hujan, pinggiran toko dipenuhi orang-orang. Karena hujan semuanya menjadi basah. Karena hujan, ayam yang berkeliaran menjadi terlihat lucu karena bulu mereka akan menjadi terlihat layu. Karena hujan, orang-orang menjadi kedinginan, lapar dan jualan pedagang gorengan, soto, bakso dan lainnya menjadi laris manis (beberapa minggu yang lalu, kami membeli gorengan di pinggir jalan karena terjebak macet dan hujan saat di Bandung). Karena hujan, pedagang bunga bersatu dengan pengunjung wisuda  dan karena hujan aku menjadi sedikit melankolis dan dapat membuat tulisan ini. Terimakasih hujan. Terimakasih Sang Pencipta hujan.
November (Rain) 8th, 2016
-Bersama teman saat hujan (KRB, 14 Agustus 2016)-

Minggu, 05 Juni 2016

Slowly, year by year, I learned how to overcome difficult situations with my Almighty~


Selasa, 29 Maret 2016

Menjadi tua

Seketika aku takut menjadi tua...

Hari ini aku sedang mengerjakan tugas sambil mendengarkan lagu.
Lagu ‘Endless Love’ secara tiba2 membuatku teringat akan bapak. Ya, bapakku..
Tadi pagi aku me’misscall’ dia dan tak lama dia meneleponku balik. Sebenarnya miscall itu tak sengaja terjadi karena aku sedang mengatur kontak di telepon genggam.
Kami berbicara tidak lebih dari 5menit. Dalam pembicaraan itu, terjadi satu hal yang tak pernah terlintas dipikiranku untuk bapakku lakukan. Hal ini pernah melintas dipikiranku kala dulu, tapi mustahil bapakku melakukannya karena dia bukan sosok yang bisa bercanda sedemikian rupa.
Tanpa kuduga, saat bertanya apa yang sedang dia lakukan, dia membuat lelucon yang belum pernah dialakukan. Saat itu dia sedang menggoreng ubi untuk sarapannya. Saat berbincang-bincang perihal yang lain dan aku hendak mengakhiri pembicaraan kami saat itu, dia mengatakan bahwa apa yang dia masak sungguh enak. Dia bilang, “Cok cium, enak kali bah...” (kembali aku menangis, karena aku masih ingat seperti apa rasa sup dan sambal ikan teri masakannya), aku merindukan masakan itu, namun kini akulah yang seharusnya memasak untuknya.
Bapakku adalah orang yang sangat rajin, saking rajinnya aku kesal karena dia kerap membangunkan kami pukul 5 pagi, bahkan sebelum jam segitu. Dan hal ini mengingatkanku pada masa kecil kami dulu di rumah bibiku. Jika ada hal2 yang ingin kami lakukan bersama pada pagi itu, kami memintanya untuk membangunkan kami berdua (aku dan kakak kedua). Tak jarang kami beribadah di tempat yang berbeda, kami di GKPS, sedangkan bapak di KHBP. Sepulang gereja, kami berbincang-bincang tentang banyak hal, sebab kami juga memiliki limit waktu untuk bersama dengannya tiap akhir pekan. Aku dan kakak sangat menanti-nantikan kedatangannya setiap sabtu petang, bukan hanya karena kami merindukannya dirinya, tetapi setiap buah tangan yang dia bawa membuat kami dan bibi bahagia. Sebenarnya berat bagi dia untuk meninggalkan kakak tertua, namun dia juga merindukan kami pastinya. Sering setelah kepulangannya aku berlari ke kamar dan berdiam di tempat tidur sembari menangis.
Saat dia mengatakan masakan itu enak, dia menyuruhku untuk mencium aroma masakannya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi... Aku tahu ini leluconnya. Dan spontan aku katakan, “Iya Pak, enak kali ya?!.” karena di saat yang sama pula aku mencium aroma masakan yang datangnya mungkin dari ibu kostku. Momen yang sangat indah-mengalami apa yang dia katakan sekalipun kami berada di dimensi ruang yang berbeda.
Aku ternyata selama ini salah mengenal dirinya. Sering aku ‘menyuruhnya’ untuk tertawa di telepon dan dia melakukannya, sehingga kami jadi tertawa bersama (benaran). Aku baru menyadari, rupanya dia juga ingin memiliki kehangatan seperti yang orang lain miliki.
Aku membayangkan diriku ada di dalam pernikahanku yang entah dengan siapa. Saat itu aku bisa merasakan betapa pedihnya hatiku ‘meninggalkan’ dia. Aku tak kuasa membendung air mata saat membayangkan dia memberikan aku, puterinya, yang dia kasihi kepada pria lain untuk dijaga.
Jika aku berada jauh darinya, siapa yang akan merawatnya? Dia sudah terlalu lama sendiri. Aku pun mungkin tak mampu terus ada bersama-sama dengan dia sekalipun aku berharap demikian.
Kami bukanlah orang yang cocok saat bersama, namun aku seringkali menyimpan rindu yang teramat dalam dan tak kuasa menahan air mata saat aku merindukannya dan mengingat dia di kala aku sakit.
Aku berdoa pada Bapa supaya dalam masa tua bapak, jiwa dan imannya Tuhan yang genggam erat.
Aku mengasihimu, bapakku...
Tuhan yang pelihara saat engkau jauh dari pandanganku, saat masa tua dan sampai memutih rambutmu.

March 28th, 2016 3.27 pm

Jumat, 05 Februari 2016

EF (Eclipse Firework)

4.49 a.m
Hari ini aku kembali bermimpi sesuatu yang indah. Ini adalah mimpi indah ketiga yang pernah aku alami. Sebenarnya ini mimpi kedua karena dua mimpi sebelumnya aku alami di tidur yang sama dan juga telah banyak mimpi-mimpi indah lain yang pernah aku alami. Mimpi yang pertama dan ketiga aku lupa apakah pernah menuliskannya, namun aku pernah menceriterakannya. Hingga sekarang aku mengingat mimpi itu dengan jelas.
Beginilah mimpi yang ketiga ini (menurut urutannya). Aku berada di rumah namboruku, tempat di mana aku dibesarkan dan mengenal ‘SaTe’ untuk pertama kalinya-waktu itu aku sangat polos. Entah mungkin oleh karena pemberitaan gerhana matahari yang akan terjadi  2 bulan setelah penulisan cerita ini aku memimpikannya. Aku memiliki kakak kelas di IPB, satu angkatan di atas saya, namanya Eko Sipraphua Sijabat, sebut saja Bang Eko atau Eko, tapi bukan Pak Eko (pahe-paket hemat di salah satu rumah makan cepat saji). Bang Eko ini menge-post thought-nya di Path tentang gerhana. Entah kenapa hal ini memasuki alam bawah sadarku. Aku menyukai fenomena alam, khususnya fenomena di cakrawala langit. Bahkan aku ingin sekali dapat melihat Aurora Bourealis yang ada di Swedia. Aku tidak tahu apakah aku bisa menggapai kerinduanku ini. Harapanku, aku bisa melihatnya sebelum aku mati nanti. Amin.
Kira-kira malam jam 10-an kami sedang berada di teras depan dan aku menyadari melihat sebuah bulan yang bersinar sangat terang. Malam ini pun sebelum jam tidur aku melihat bulan begitu terang dan bersih. Ini adalah bulan yang sangat jernih yang aku lihat semenjak kedatanganku ke kota hujan ini Agustus tahun lalu. Jadi di dalam mimpiku pun terjadi hal yang sama. Namun tiba-tiba aku melihat sesuatu yang gelap menutupi cahaya itu sehingga yang terbentuk adalah cincin bulan. Aku sangat kecewa karena aku melihat bulan itu tertutup, namun aku juga senang karena bisa menyaksikannya. Aku melihat kejadian itu bersama dengan sepupuku, kami sungguh menikmatinya. Setelah beberapa lama saatnya, tetangga di depan rumah juga turut keluar rumahnya untuk menyaksikan hal itu, akhirnya si bulan sedikit terabaikan. Tiba-tiba keponakanku, anak sepupuku, menangis kenncang. Sepupuku bilang supaya aku menutup pintu rumah karena fenomena gerhana ini,begitu aku menyebutnya, menghasilkan sebuah suara yang tidak mengenakkan di telinga anak bayi. Beberapa pandangan teralihkan oleh menutup pintu dan tetangga.
Oleh karena hal ini adalah langka, maka seperti di mimpi sebelumnya, aku sibuk mencari kamera dan ingin mengabadikannya. Akhirnya aku memotret beberapa pergeseran cincin, setelah itu aku mematikan kameranya dan hendak berbalik masuk ke dalam rumah. Secara tiba-tiba, saat gerhana akan selesai, aku mendengar suata dentuman, sungguh nyaring. Dentuman itu adalah suara kembang api yang berasal dari gerhana itu. Jadi, ceritanya gerhana itu berubah menjadi percikan kembang api yang sungguh indah. Aku tidak sempat berpikir “What’s going on?” karena aku sungguh terpana. Begitu terperanjatnya aku sampai-sampai aku lupa bahwa hal yang sangat baik ini sangat luar biasa jika kembali direkam atau difoto. Oleh karena itu aku buru-buru ingin memotretnya. Saking tak mau melewatkan fenomena lanjutan gerhana ini, aku tak jadi melakukannya. Perlu dicatat bahwa kamera milikku sangat jadul, di mana untuk membuatnya berada pada posisi “on” memakan waktu yang lumayan. Karena aku tau akan lama, sedangkan kembang api itu hanya akan sebentar, alhasil tak ada yang aku lakukan selain terkesima dengan apa yang ada di depan mataku, begitu indah, semarak, terang dan penuh warna. Setelah mimpi itu aku terbangun.
Sekian cerita mimpi itu.
Setelah bangun dengan ingatan mimpi itu di memoriku, aku memulai ’SaTe’ku dengan berdoa di pembaringanku. Judul hari ini “Kaki yang terkelupas dan Lutut yang luka”, sungguh judul yang memilukan. Seusai membaca keseluruhan perenungan dan referensi yang ada di sana, aku menemukan kalimat “pikul salib”. Salib diterjemahkan sebagai banyak hal. Karena aku ingin lebih rinci akhirnya aku membuka “Sabda” (http://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Salib) untuk mencari artinya. Tepat pada bacaanku ini, merujuk pada [Lambang], salib memiliki arti: kadang-kadang sebagai METAFORA, segala pencobaan berat dan menyakitkan, yang dijatuhkan Allah untuk menguji iman kita. Saat membaca ini tanpa terasa aku menitikkan air mataku. Betapa Tuhan ingin mengingatkanku akan sebuah perjalanan menuju “masa depanku”.
Salib itu sering kali menyakitiku. Sama seperti Petrus yang mendambakan sukacita, kebahagiaan dan kemahsyuran, aku pun mendambakannya, terutama di dalam keluargaku. Bagiku, menjadi Kristen adalah sebuah pilihan yang membawa kita pada salib yang menuju kemuliaan, sama seperti yang Kristus alami-hanya saja kita tidak menanggung dosa, sebab semuanya telah selesai Dia kerjakan. Yang kita tanggung sekarang adalah pergumulan yang menyangkut jiwa-jiwa dan menjadi garam dan terang. Salib memimpin pada sebuah jalan hidup yang penuh rintangan, namun melalui Ibrani 12:2 aku diingatkan bahwa Yesus mengabaikan kehinaanNya dan Dia TEKUN memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagiNya. Entah bagaimana caranya Yesus bisa menemukan sukacita pada salib yang sangat membebaninya itu sementara aku berusaha menghidarinya, bila perlu aku menolak salib itu. Sekarang aku telah mengetahui, tidak hanya melalui kitab para nabi namun juga mengimani, Yesus kini berada di takhta kemuliaanNya.

Ternyata apa yang kudambakan di atas, sama sekali tidak pernah dihalangi oleh Bapa. Bahkan Dia ingin sekali supaya aku bisa memperoleh dan memiliki semuanya itu, hanya saja hari ini Dia mengajarkanku bahwa aku bisa mendapat semuanya, bahkan lebih, yaitu duduk bersama-sama dengan AnakNya, jika dan hanya jika aku memikul salib yang telah ditentukan bagiku. Aku tidak boleh menyerah pada kenyataan hidup ini melainkan aku harus melaluinya bersama salibku itu. Aku tersadar bahwa selama ini aku berada pada hari-hari yang sulit karena aku menyerah pada salibNya. Sukacita itu bukan terletak pada salib, melainkan tujuan akhirku. Dahulu aku belajar bahwa Tuhan menginginkan aku dibentuk melalui proses, namun sekarang Dia telah mengingatkanku akan “Finish”, di sanalah terletak sukacita itu. Sama seperti seorang pelari yang melewati semua rintangannya demi kemenangan di akhir. Kini aku akan mencari dan memandang tujuan Allah, yakni “masa depan” melalui salibku hari demi hari hingga aku beroleh masa bersama Dia, muka dengan muka.
Mungkin aku tidak akan melihat pelangi sehabis hujan, melainkan kembang api setelah gerhana. J
January 23rd, 2016

Jumat, 15 Januari 2016

Kekasihku

11.12 am
Aku mencoba menulis tentangmu namun aku tak mampu.
Sebenarnya sama sekali tidak ada perasaan yang kubawa ke dalam hati ini untuknya.
Kekasihku telah datang menemuiku namun aku terlalu takut untuk jatuh cinta padanya.
Tak ingin kukhianati dirinya walaupun aku sendiri juga tidak tahu bagaimana jujur hatinya.
Mungkin dia bukan yang pertama tapi aku mau dia menjadi yang terakhir bagiku.
Seperti berlari jauh dan dihempas ombak, tak ada jejak dan tinggal riak.
Mungkin aku terlalu jauh baginya.
Aku ingin dia tetap ada di sisiku tapi kenyataan hidup memberi jarak di antara kami.
Hanya rindu yang membayang.
Pulang pun terkadang.
Semuanya menjadi renggang.
Rasa sayang menghilang.
Benci yang menghadang.
Aku harap ia segera datang.

January 9th ,2016

Kamis, 07 Januari 2016

Taman Bunga Nusantara

These are some picture of ours:

1. Pertama tiba sangat excited dan langsung foto keluarga, hahaha...


2. Melihat rute dan luasnya taman serta teriknya matahari beberapa pasang muka tak sedap.


3. Di tempat yang memiliki kanopy ini sejenak kami ber-adem ria dan pose dengan setil style masing-masing.


4. Membelakangi patung Dewi Kunti di gazebo Danau Angsa. Kami menjadikannya latar foto keluarga kami yang kedua :D


5. Mengadopsi quote yang pernah dibuat oleh seseorang, timbullah foto ini. Mutasem mengambil foto Merry dan Janet mengambil foto mereka berdua, di belakangnya Lenny (saya) mengambil mereka semua.
Quote itu berbunyi seperti ini: "He look at her but she look at him (another man)."
Quote foto ini: She took his photo but he took her (another woman) photo. And I took their photos. Hahaha.. *crazy me


6. Foto keluarga terakhir di dalam rumah kaca dengan 3.000 panel kaca. Woow...


7. Di lokasi piknik yang tidak dipakai untuk piknik, tapi dipakai untuk berfoto dan bermain kasti dengan buah dari Pohon Kigelia yang berbuah seperti ubi atau sosis ukuran jumbo.


Ada satu pengalaman yang tak kami sangka terjadi di tempat ini, saat kami pertama kali tiba. Pengalaman ini hanya untuk konsumsi kami semata. Tapi kami sangat bersyukur atas pengalaman ini.

Jalan-jalan ini juga meninggalkan kesan yang luar biasa. Berbagi cerita tentang kepercayaan masing-masing dan kami ditilang polisi saat pulang.

Perhatikan baik-baik perubahan wajah dari foto ke foto. Hahaha...

Thanks to all contributor;
Beny, Diego, Gabriello, Janet, Lenny, Loretta, Merry, Mutasem and Waheed.
Thanks to Merry for the camera and also being ojek. :D

Rabu, 16 September 2015

Tes Kepribadian

Tipe Realis Sosial adalah orang-orang populer yang penuh energi. Mereka dapat diandalkan, terorganisir dengan baik, dan senang menolong. Nilai-nilai tradisional penting bagi mereka. Pembentukan keluarga juga memegang peran utama dalam kehidupan mereka. Tipe Realis Sosial memiliki sifat sosial yang menonjol. Mereka selalu siap mendengarkan kegelisahan dan masalah orang lain dan tidak pikir panjang ketika dimintai bantuan. Dengan empati dan pengertian, mereka dapat merasakan apa yang dibutuhkan orang lain. Tipe Realis Sosial selalu bersedia menghargai sifat-sifat baik orang lain dan memaafkan kelemahan orang itu. Mereka yang paling mudah bergaul dari seluruh tipe kepribadian. Kontak sosial sangat penting bagi mereka.

Tipe Realis Sosial sangat sulit menerima konflik dan kritik – keharmonisan adalah ramuan mujarab bagi hidup mereka. Pengakuan dan harga diri sangat penting bagi tipe ini. Di sisi lain, diferensiasi bukan salah satu kekuatan mereka. Dalam pekerjaan dan kemitraan, mereka setia, berkomitmen, dan selalu siap jika dibutuhkan. Mereka mudah berteman karena keterbukaan dan kehangatan mereka, dan mereka memiliki lingkaran besar pertemanan. Dalam asmara, mereka bisa dipercaya, penuh perhatian, dan menyayangi pasangan mereka dengan imajinasi dan kepekaan besar. Tipe Realis Sosial menunjukkan perasaan mereka dengan terbuka dan jujur. Jika hubungan mereka putus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Itulah sebabnya mereka sulit mengakhiri hubungan sekalipun hubungan itu sudah tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka.

Tipe Realis Sosial adalah tipe yang lebih konservatif. Mereka memiliki tata nilai dan aturan yang kaku yang berorientasi pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mereka lebih menyukai lingkungan dan proses kerja yang jelas dan terstruktur; mereka tidak menyukai terlalu banyak perubahan dan gejolak. Kekuatan mereka terletak pada diri mereka yang teliti dan dapat diandalkan dan bukan pada keluwesan dan spontanitas mereka. Tipe Realis Sosial hanya terbuka hingga batas tertentu terhadap hal-hal baru. Namun, jika Anda mencari orang untuk menyelesaikan tugas dengan dapat diandalkan dan tepat, merekalah orangnya.

Try your personality test here --> http://www.ipersonic.net/id/7.html

Kamis, 07 Mei 2015

The Heirs

Awalnya “Heirs” hanya untuk membuang kepenatan di sela-sela pekerjaan. Tak lama melihatnya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku mengawalinya di cerita ke-15, tapi setelah mendapatkan serinya dengan lengkap, aku mundur ke awal sekali.
“Roma” mematrikan sebuah tulisan yang tak bisa kulupakan bahwa apapun tak akan bisa memisahkan aku dari sebuah kasih seorang Pribadi. Hari ini tepat hari berkumpul setiap minggunya. Dalam tuntunan dan “bincang2” yang disampaikan, aku mendengar bahwa semuanya yang terjadi adalah BIASA!! Tak ada yang luar biasa...
Aku mengiyakan hal itu. Saat mataku masih tertutup aku mendengar sesuatu berbisik dalam hatiku, menuntunku ke “Roma” yang tak kulupakan itu-semuanya terlalu biasa hingga itu semua tak mampu membuat aku dan Dia terpisah... Hanya Kasih saja yang luar biasa, sehingga hanya itu yang dapat membuat kami tak terpisahkan.
Kembali ke awal cerita...
Masih dalam cerita panjang dengan mata tertutup, aku teringat sosok ibu, mama(k), bunda, uni, mother... Di “Heirs” aku menemukan pernyataan yang (mungkin) tak akan salah bahwa sosok yang kusebutkan di atas adalah kata yang paling indah di dunia dalam bahasa internasional yang pertama kali kukenal.
Aku lupa kapan terakhir kali menyebutkan kata itu, namun aku juga tak pernah lupa kapan terkahir kali menyebutkannya.
Mungkin aku terdengar begitu galau aneh. Melakukan dua hal yang bertolak belakang bersamaan.
Aku mengatakan lupa kapan terakhir kali menyebutkannya karena tidak setiap hari aku menyebut namanya, bahkan dalam doa, aku lupa kapan...
Aku mengatakan tak pernah lupa kapan karena saat aku memanggil nama itu, aku mengalami ujian yang sangat berat bagi seorang anak berusia dua tahun yang sedang sakit dan hanya ingin berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya padaku. Aku mendapat boneka “monkey”, boneka pertama dalam hidupku, kuperoleh saat aku sakit. Aku masih bisa mengingat saat itu aku mendapatkan pukulan yang tak mampu ditampung oleh hatiku yang berukuran tak seberapa.
Sejak saat itu aku takut menyebutkan kata itu lagi. Aku hanya ingin berterima kasih pada orang yang tak seharusnya menyayangiku namun yang telah melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan..memberikan curahan kasih sayang. Karena rasa terima kasihku itu aku harus mendapatkan pukulan dari orang yang seharusnya mendapat kasih sayang itu. Aku tahu bahwa dia sudah mendapatkan segalanya, tapi dia tidak mengerti bahwa aku hanya mendapatkan hal seperti ini hanya sekali.
Apa yang pernah kudapatkan “sekali” itu lah yang membawaku pulang kembali untuk melakukan hal yang sama berkali-kali... Dia pantas mendapatkannya. Hatiku begitu tak tahan untuk melihatnya berbaring terlalu lama. Aku bahkan tak pulang ke rumahku sendiri hanya untuk menemaninya di rumah sakit daam waktu dua hari yang kupunyai, seutuhnya... Aku selalu datang dengan berat hati, namun aku pulang dengan sukacita yang tak terkatakan, namun hal itu berarti kesedihan yang dalam buatnya. Setiap kali kami memiliki kesempatan bercerita melalui ponsel, tak pernah dia tidak terbata-bata dalam berbahasa...
Terima kasih bagiMu yang memberikan sesuatu yang “LUAR BIASA” bagiku...
Terima kasih padaMu yang memilihku untuk tak akan terpisahkan...
Terima kasih bahwa itu semua nyata adanya...
Love makes life
 May 6th, 2015

Selasa, 31 Maret 2015

Kesempurnaan

05.38 p.m.
Menurut KBBI, definisi sempurna adalah:
1 utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela)
2 lengkap; komplet
3 selesai dng sebaik-baiknya; teratur dng sangat baiknya
4 baik sekali; terbaik
Menurut THESAURUS, definisi sempurna adalah
1 afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama
2 beres, selesai, tuntas;
Menurut Kamus Seasite, definisi sempurna adalah tidak cacat; utuh; lengkap; komplit.
Itu jugalah definisi sempurna yang kuketahui dan kuyakini...
Aku menyadari setelah sekian lama hidup di dalam pembelajaran dan kenyataan, selaiknya di sekolah ada teori, maka ada pula praktik, HIDUPku ini sungguhlah suatu kesempurnaan.
Dulu aku menganggap bahwa apa yang kujumpai tidak pernah menyandang gelar sempurna.
 Yang sempurna hanyalah TUHAN. Demikian.
Tidak ada yang salah. Nyata benar bahwa Dia sempurna adanya.
Namun kini, mataku telah terbuka dengan sebuah pengertian yang baru, bahwa setiap yang kujumpai memiliki kesempurnaannya sendiri.
Suatu keluarga dengan tanpa ibu atau ayah atau kakak atau adik, bukanlah suatu kesempurnaan.
Hidup dalam kekurangan pun bukan kesempurnaan.
Tinggal dengan harus “menumpang” di rumah keluarga yang lain tak dapat dikatakan sempurna.
Memiliki nilai indeks prestasi kurang dari 4 juga tidak sempurna.
Banyak hal-hal yang senantiasa kujumpai dan kusematkan dengan kata “tidak sempurna”.
Ada sesuatu yang selama ini menghalangi pandanganku dari sebuah kata sempurna yang dimiliki oleh apa yang aku alami sendiri.
Bukan dengan mata, tapi dengan hati pula seharusnya aku melihat.
Kenapa aku harus iri, kenapa aku harus marah, dan kenapa aku harus tak mengakui bahwa banyak peristiwa dan hal-hal tertentu bukanlah kepunyaanku?!
Aku harusnya berpikir bahwa tidak semua peristiwa dan hal-hal tertentu yang kualami, mereka juga alami. Kenapa mereka harus iri, marah atau tak mengakui?!
Di sanalah letak kesempurnaan itu. Dia begitu sempurna memilihku untuk tidak hidup dengan “kesempurnaan” (yang kukenal dulu). Menetapkanku untuk tidak pernah melihat ibu kandungku hingga aku mungkin usia 30. Menempatkanku di tengah-tengah tempat yang terasa asing bagiku. Membiarkanku mengalami jatuh cinta pada pria yang tak pernah mencintaiku. Melepaskan seluruh dambaanku akan kasih sayang ibu. Menahan hasrat akan cita-cita besarku.
Semuanya digantikan, digantikan dengan sesuatu yang tak dinyana olehku.
Dia begitu sempurna memilihku mengenalMu. Dan sangat paripurna apa yang telah dikerjakan bagiku. Memiliki Dia saja sempurna bagiku. Dengan seluruh cinta, cipta, rasa, karsa aku bisa menjalani hidup bersama siapa saja, memiliki apa saja, melepaskan apapun, meninggalkan sesuatu, dan mengalami semua yang Dia kehendaki bagiku.
Betapa sempurnanya aku di saat aku ketahui bahwa tanpa ibu pun aku mendapat kasih sayang (mungkin) dari 2 paman dan atau 3 bibi sekaligus. Sangat sederhana, namun butuh waktu yang lama bagiku untuk memahami dan menyadari kedalaman pekerjaanNya.
Yang kumaksud disini adalah PEKRJAAN-NYA yang telah dan akan dilakukan bagiku dan bagimu.
Sebenarnya masih banyak hal yang tidak sempurna.
Bapa itu sempurna dan kita diminta HARUS sempurna sepertiNya. Sulit, tapi Dia bilang harus!!!
Jika kita hendak sempurna, Dia menyuruh kita menjual segala milik kita dan MEMBERIkan kepada orang miskin, dengan demikian beroleh harta di sorga. Tak gampang melakukannya dengan sifat kemanusiaan kita yang terbatas ini.
Sebuah kesempurnaan bisa berubah menjadi ketidaksempurnaan jika dan hanya jika aku tidak memiliki KASIH. Bahkan aku tak akan menjadi berguna.
Segala pengetahuan dan nubuat yang ada padaku tidaklah sempurna. Hal inilah yang sedang terjadi, bahwa aku terlambat menyadari tentang “kesempurnaan” itu sendiri. Bahkan nubuat (visi) yang kubuat tidak rampung. Sudah barang tentu rumpang. Tidak sempurna.
Pengenalanku akan Pribadi yang sempurna belumlah sempurna. Aku tidak khawatir akan hal ini karena NANTI aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Ketaatanku belum sempurna. Sangat jelas aku rasa.
Aku sendiri masih didoakan supaya aku menjadi sempurna.
Diriku belum sempurna. Aku diminta untuk mengusahakannya.
Ketekunanku pun demikian.
Bahkan dikatakan tidak satupun dari pekerjaanku yang didapatiNya sempurna di hadapanNya.
Jika ditelisik lebih dalam, pekerjaanNya lah yang sempurna dan pekerjaanku yang tidak sempurna. Tidak boleh lagi ada bantahan. Titik. Final.
Dengan kesempurnaan jalan-Nya dan kemurnian janji-Nya aku telah memperoleh apa yang dikatakan bahwa “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (1 Kor 13:10)”
Amin.
March 19th, 2015 

Selasa, 10 Maret 2015

Mimpi

4.46 a.m.
Setelah semalam aku mengalami mimpi yang sangat aneh, hari ini aku mengalami mimpi yang sangat indah.
Aku bertanya-tanya tentang arti mimpi itu. Sangkaku, mungkin aku terlalu rindu atau mungkin dia yang terlalu memikirkanku.
Yang pasti apa yang kualami benar-benar membuatku takjub.
Saat aku tak tau ke mana hatiku akan pergi...ke mana cintaku akan berlabuh...yang ‘ku tau hanyalah Engkau masih saja di dekatku, memastikan bahwa perginya hati dan cintaku tepat kepada siapa yang Kau mau.
Aku bergumam, “Tuhan, akankah mimpi itu berubah menjadi nyata?”
Aku mau dan sangat ingin itu terjadi di kehidupanku yang akan datang.
Sampai kini aku bisa merasakan betapa bahagianya aku saat itu.
Aku bisa menyenangkannya, membawanya ke tempat yang dia belum pernah datangi, menyajikan apa yang belum pernah ia cicipi, memberikan apa yang dia ingini, bahkan mengetahui perasaannya...
Dia juga melakukan hal yang sangat manis kepadaku. Mendekapku hangat, memegang tanganku erat, menghalau saat hewan yang kubenci mendekat, semua adalah hal-hal yang kecil, namun apa yang dia lakukan itu juga belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sampai akhirnya kami tiba di suatu tempat, di mana kami duduk berdua dan aku berkata padanya “Kita akan pergi ke kota Z suatu hari nanti”. Entah apa yang terlintas di pikiran kami...kami menangis, aku menangis dalam pelukannya.
Tangisanku adalah tangisan bahagia (hanya sesaat) dan selebihnya adalah tangisan perpisahan.
Sampai saat hingga aku berusaha mengingat-tanpa membumbui cerita ini, bahkan menuliskannya, yang tersisa dari semuanya adalah air mata...
Aku tau, sebenarnya akulah yang sangat merindu...
Hanya bertelut, dan membawa namanya dalam doa yang aku bisa...
March 10th, 2015

Jumat, 27 Februari 2015

Hari Kematian

1.19 p.m.
Aku tidak tahu bila hari kematianku.
Tapi satu hal yang pasti ada seorang yang kukasihi, yang mulanya tidak kukenal, dia akan datang pada saat kematian/pemakamanku. Aku telah membuat janji dengannya.
February 23rd, 2015

Kamis, 27 November 2014

"Siapa?" bukan "Mengapa"

07.08 a.m.

“Siapa?” bukan “Mengapa” adalah sebuah judul artikel sederhana yang mengubah cara pandangku hari ini. Kerap sekali setiap orangyang dirundung dalam sebuah pergumulan menyanyakan “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Mengapa harus aku yang mengalami?”, “Mengapa ini...” dan “Mengapa itu....”
Kata tanya ini merupakan kata yang sama sekali kusukai dan sering kulontarkan ketika aku dirundung pergumulan. Ya, kata ini begitu fasih di bibir dan terkesan memiliki pertanyaan dan jawaban yang sama dramatisnya dengan permasalahan kita.
Namun hari ini aku mendapatkan sebuah pemahaman baru, tidak lagi bertanya”Mengapa?” melainkan “Siapa?”
Melalui kata “Siapa?” ini aku menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan“Mengapa?”ku bahkan aku juga mendapati ada sebuah jawaban yang tidak pernah memiliki pertanyaan. Hal ini tidak dikarenakan akibat kosongnya atau tidak ada pertanyaan sama sekali, melainkan karena saking sukarnya jawaban atas pertanyaan itu sehingga dia tidak digolongkan sebagai sebuah pertanyaan (Apakah mungkin ada pertanyaan semacam itu? Entahlah.)
Hal pasti yang kualami, saat aku mengalami sebuah galian tekanan akibat masa lalu suram yang telah terkubur dalam dan bertanya “Siapa?” aku mengerti bahwa Dia adalah Pribadi yang berdaulat atas masa lalu, masa kini dan masa depanku. Saat aku lemah-tak berdaya menghadapi setiap cemooh dan tak tahu harus berbuat apa lagi, aku tahu bahwa Dia satu-satunya sumber kekuatan dan penyembuh batinku. Bahkan saat aku kehilangan pengharapan, aku tersandung oleh “Siapa?”, yaitu Dia yang menjadi sauhku.

November 24th, 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Service Motor

Happy Monday
“Mau apa Mbak?”
“Service motor Mas...”
“Apa aja?”
“Ganti oli sama minta dicek saluran olinya karena suka berlebihan olinya keluar, trus kalau tanjakan terlalu panjang dia suka mati di tengah jalan, jadi minta dinaikin gasnya boleh? Oya, sama lampu belakangnya mati juga.” (Aku mengatakannya sambil sumringah, mungkin mas-masnya mikir, okeh bener).
“Ok, tunggu di sana aja” (sambil menunjuk ke kursi). “Anak-anak (memanggil karyawannya), ini, Mbaknya mau dicek motornya.”
(Sambil menyerahkan motor) “Monggo Mas...”
“Mbaknya orang mana toh? Bisa boso Jowo toh?”
“Saya orang Medan. Hehehe...sedikit”
Sambil memandang sekeliling ruangan bengkel, pandanganku terusik dengan pipa air yang bocor dan menyemburkan air ke arah jalan. Semburan air membuat orang yang melintas sedikit membungkukkan badan dan berusaha menghindar, ya walaupun sebenarnya mereka akan tetap basah dan tidak bisa menghindar karena jalannya cukup tidak luas.
Aku tak mampu menahan senyum saat sebuah Tossa (Transportasi motor roda tiga) yang mengangkut beberapa orang, melewati semburan air tersebut. Poin lucunya ada pada kenakalan pengemudi. Dia sengaja memperlambat lajunya saat badannya telah melewati semburan, namun ekornya (yang berisi muatan teman-temannya) masih terkena semburan air. Semua (tiga) temannya yang ada dalam angkutan menjadi bertingkah seperti seseorang yang meringkuk akibat ditangkap polisi, guna menutupi badan dari air pipa. Hal itu sungguh membuatku senang dan tawa pun pecah di mulutku. Salah seorang pelanggan bengkel melihat apa yang kutertawakan, dan ia pun ikut menyungging senyum. Aku bahagia bisa berbagi suka dengannya.
Kembali ke bengkel. Aku bersyukur bisa memberi perawatan buat motor Paman, yg dikasih buatku, yang sudah kurencanakan sejak Kamis yang lalu. Hal yang lebih luar biasa lagi, ternyata empunya bengkel adalah seorang yang nice person to share.
Kami bicara banyak di sela-sela ganti oli. Aku bertanya tentang kotak hitam di bawah stang motor, yang ternyata adalah filter angin. Dia bilang dia kurang paham motor, kemudian aku menyela “apalagi saya”.
Setelah melalui cerita sana-sini, tentang pekerjaan (sebelumnya), iparnya yg tinggal di P. Siantar, Pelanduk, “2 pewayangan”, skripsi, penemuan, bakteri, Botani, candi yang lebih besar dari Borobudur dan Piramida yang lebih besar dari pada yang di Mesir (dan untuk memastikannya aku bertanya, “Itu nyata atau??” dan jawabnya: “Ya, nyata”), ikan seperti bandeng, Pak Atmojo, Sirsak yang diterimanya kemarin, hobi memancing, hingga ada beberapa istilah yang baru saja kurasa patut untuk ku”pegang”, yaitu “Prana Manusia”
Hari yang tidak biasa. Dia juga menceritakan pengalamannya beberapa hari yang lalu ditabrak motor oleh anak-anak, yang membuatnya mengejek anak itu untuk mengulanginya kembali. Walaupun itu berupa sindiran, aku merasa itu sangat tulus dari hatinya agar dia tidak mengulanginya. Dia bahkan menawarkan untuk memasukkan motor si anak yang ringsek dan bengkok stang, ke bengkel yang dikelolanya.
Dalam satu session percakapan dengan kata “Trauma”, dia berusaha menyakinkanku untuk melakukan seperti yang dia lakukan untuk dirinya, yaitu mengejek diri sendiri. Jujur, aku tidak bisa. Semua butuh waktu. Umumnya, aku mengalami “pelecehan” lingkungan terlebih dahulu baru kemudian aku bisa “mengejek” diri sendiri. Orang aja bisa, kenapa aku engga??
Satu yang kusuka, pada akhirnya, dia mengajakku bergabung untuk memancing ikan yang seperti ikan bandeng, di mana jika di Jawa saja ikan itu tidak lebih dari sejengkal jariorang dewasa, namun di sini dapat tumbuh hamper selengan orang dewasa panjangnya. Yeeey, asyikk.
Hahaha...ternyata untuk menikmati hidup itu sederhana, begitu katanya. Aku pun setuju. Dalam hidup ini, untuk bisa berbahagia, cukup perhatikan hal-hal kecil yang terjadi disekitar kita, atau bayangkan saja “bagaimana mungkin seekor cacing yang lemah dapat melubangi tanah” (begitu dia mengumpamakannya).
Thanks God.
September 22nd, 2014  

Senin, 06 Oktober 2014

Dikenalnya

4.34 a. m.
Menjadi terkenal, bagi orang sepertiku, pasti menyenangkan, apalagi sebelumnya aku tak pernah menjadi public figure. Namun, pada hari ini aku dikenal karena berita yang tidak baik.
Entah apa yang ada di benakku. Sehari sebelum kejadian, pada malam menjelang, tanpa kusadari aku teringat akan peristiwa kematian. Kematian yang membawa perpisahan.
Ingatan itupun tak pelak membuat sesak di tenggorokan. Ya, aku mengeluarkan isi lambung yang sudah 6 jam diolah. Tak ada yang tersisa, hanya sakit dan air mata.
Keesokannya berjalan seperti sebuah rutinitas dengan tambahan beberapa kejutan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Rasanya seperti dihantam dan dihujam dengan batu besar. Aku berusaha tetap tenang dan ingin semuanya cepat berlalu.
Bertemu dengan orang yang kukenal dan kukasihi karena aku percaya dia dititipkan untuk sebuah ujian ketulusan, itu tak sedikitpun menyurutkan kecemasanku. Bahkan “Kecemasan yang penuh damai” tak lagi dalam genggaman dan aku melupakannya.
Sejak saat itu, aku tak henti-hentinya ‘berpikir keras’, bagaimana bila ini.... bagaimana bila itu... Dua hari setelah kejadian akhirnya telinga ini mendengar apa yang kukhawatirkan. Aku menjadi ‘terkenal’. Semakin berat rasanya apalagi setelah mengetahui bahwa bukan hanya satu, tetapi dua hal yang menjadi beban bagiku.
Aku akhirnya menumpahkan sebuah titik yang tak kuinginkan saat itu. Terlalu lama bertahan dan berusaha aku berdiri sendiri, namun batas ketahanan itu habis dan aku menangis, sebab hari itu apa yang aku kerjakan tak ada yang benar, salah ini dan salah itu. Ternyata aku tak mampu tegar dan konsisten di saat menjalani pergumulan.
Hati kecil ini ingin mendengar kata kesepakatan namun hati kecil yang paling dalam kuat untuk menyatakan apa yang seharusnya. Lama bergumul dengan hati kecil dan hati yang dalam membuat migrainku kambuh. Sakitnya lebih dari biasanya.
Begitu pulang, hanya pembaringan yang kuinginkan. Berusaha menghilangkannya dengan memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat. Berharap dia pergi dan hilang, namun begitu terjaga tak ada yang berubah. Aku berusaha melakukan apapun dan mencari kesibukan lain, masih dengan harapan yang sama.
Dalam hatiku aku merasakan bahwa tak ada gunanya aku mencari ‘kesenangan’ dan penghiburan di tempat lain. Aku akan mencarinya di tempat yang telah teruji oleh waktu, sebab aku pernah mengalami dan melakukannya. Aku bangkit dan duduk. Aku mulai membuka bacaan malam itu sekalipun waktu belum menunjukkan saatnya. Saat melihat judul aku berpikir, mungkin ini bukan jawabah, namun tak ada salahnya. Baris demi baris mulai menyentuh hati yang dalam. Bahkan lebih lagi saat aku melihat pengantar, ya pengantar yang benar-benar mengantar aku untuk benar-benar mengerti dan dipengaruhi olehnya.
Tempat itu kusukai dan akhirnya aku sangat rindu melihat dari asalnya. Kembali aku membaca dengan berulang-ulang, aku sangat menyukainya. Aku terenyuh sebab dia mengenal aku dengan sangat benar dan real time. Aku ingin mengulangnya lagi dan lagi, rasa sakit itu tak kunjung redam malah semakin bertambah. Harapanku tetap kupertaruhkan di dalamnya. Sampai akhirnya aku didatangi kembali oleh seseorang yang melihatku ‘terkenal’.
“Kenapa merah?”. “Karena ini”. Saat dia konfirmasi apa yang dilihatnya dengan apa yang kualami, aku mengiyakan semuanya. Ternyata beban itu bukan aku seorang yang merasakannya, dia juga. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan didorong oleh kerinduan yang sama, aku membacakan sepenggal apa yang baru saja kubaca.
Nyaris empat jam from A to Z, kami menyudahi kisah itu malam tadi. Kembali di pembaringan, aku masih tak habis pikir, sungguh dia ada di dekatku. Dia menyaksikanku. Dia mengerti dan peduli. Aku kembali membacanya di tempat yang kusukai dan aku mengeluarkan titik yang kuinginkan. Titik yang menjadi alasan baginya untuk datang. Aku telah patah hati. Aku telah membuat titik itu di pembaringanku, aku berharap dia mengusapnya bagiku.
Tak ada yang mampu kukatakan. Lewat tulisan inilah aku mampu menceritakan pengalaman hebatku dengannya. Dia bahkan telah menemaniku menuliskan ini semuanya.
Pagi ini sungguh baru bagiku. Aku kembali mendapatkan kejutan yang aku pikir sudah ‘habis’ atau kejutan zonk. Ternyata tidak. Aku memperoleh hadiah yang besar atas harapanku. Harapan itu nyata. Pagi ini migrainku hilang dan tak ada lagi.
Sungguh dia telah menjadi pengungsianku. Menjadi tempatku bersandar, bahkan aku sering kali menjadikannya tempat yang terakhir, tempat terfavorit if I have no where to go.
Inilah Mazmur yang menjadi kegiranganku:
(39-2) Pikirku: "Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku."
(39-3) Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.
(39-4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:
(39-5) "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(39-6) Sungguh, hanya beberapa telempap* saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela
(39-7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
(39-8) Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.
(39-9) Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!
(39-10) Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.
(39-11) Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena serangan tangan-Mu.
(39-12) Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela
(39-13) Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
(39-14) Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!"
Aku telah menjadi terkenal. Dia sangat mengenalku.
Aku menerimanya Kasih, terima kasih :)

*Kelas Kata :: Kata Benda, Kata Kerja
  Keluarga Kata :: menelempap, setelempap, telempap
  Kata dalam TB :: 1x dalam 1 ayat (dalam PL: 1x dalam 1 ayat)
  [KBBI]   te=lem=pap n tapak tangan;
                 me=ne=lem=pap v mengukur dng telempap;
                 se=te=lem=pap num selebar atau seluas telapak tangan: lebarnya (tebalnya);
                 diberi sejari hendak ~, pb orang yg diberi sedikit ingin lebih banyak lagi
(Sumber: SABDA)
October 3rd, 2014

Selasa, 30 September 2014

Sungguh tanpa dasar

05.30 p.m.

Seringkali aku jatuh ke dalam pencobaan
Aku sangat malu kepadaMu
Apalagi saat aku ingat betapa hal itu melukai hatiMu
Aku merasa tak ada teman untuk bercerita
Aku terlalu sungkan untuk berbagi
Semua hanya karena ego yang tinggi
Tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku
Sesuatu yang tiada kusangka
“Dia, yang mencintaiku dengan hati penuh...
Dia mencintaiku tanpa dasar.”
Tak ada satupun alas an bagiku untuk dicintai, namun
Dia sungguh berani melakukannya terhadapku,
Dia bahkan mutlak menginginiku.
Dia hanya menaruh aku seorang dalam hatinya.
Dia ingin aku menjadi yang utama baginya.
Saat petang datang, malam membayang dan pagi menjelang,
Hanya aku, aku, dan aku yang ada di benaknya.
Aku tak menyadari hal itu sampai akhirnya aku merasa malu
Malu bahwa tak ada dasar bagiku
Dasar yang menjadi alasan untuk dicintai
Semua hanya karena kasihnya
Kasihnya yang agung dan mulia
Kasih itu adalah Dia
Dia kekasihku, Dia ingin menjadi bagian yang utuh dan penuh dalam hidupku.
Ampuni aku yang sering melupakanMu.
Aku hanya tak memiliki dasar.
Terima kasih telah mencintaiku.
Mencintaiku tanpa berdasarkan apa adanya aku.
Engkau jualah dasarku mencintaiMu
UntukMu yang dengan hati penuh mencintaiku tanpa dasar.
September 27th, 2014

Jumat, 26 September 2014

Temukan aku kembali

7.32 p.m.
Temukan ‘ku kembali
Sebab aku mencintai hidup
Dahulu aku mencintainya karena kita bersama
Sekarang aku nyaris kehilangannya.
Engkau yang menjadi hidupku, ke manakah perginya?
Aku tak tahu bahwa aku kehilangan jejak
Berada di persimpangan, tak tentu arah
Dingin menusuk tulang, tiada cahaya, gelap mencekam

September 25th, 2014

Senin, 22 September 2014

Kekonyolan kami


 Thank God :')

Gbr atas : Final Piala Dunia 2014

Gbr tengah : Ga sengaja jd Traffict light

Gbr bawah : Such a (farewell) party maybe :(

Jumat, 19 September 2014

Doa Si Debu

02.34 a.m.
Saat seorang pendosa berdoa kepada Pribadi Kudus

Ke manakah aku akan pergi menjauhiMu??
Ke manakah aku akan lari menghindar dariMu??
Sesungguhnya aku kembali datang dan menjadikanMu pengungsianku....

Hanya sesaat saja aku bisa merasakan arti cita dalam kesukaan
Namun Engkau telah membuatku merasakan cita dalam kedukaan

Berikanlah kekuatan kepada kami yang lemah dan menaruh pengharapan kepada Tuhan
Kamipun ingin merasakan arti keluarga yang seutuhnya

Terkadang ya Tuhan, aku menyesali kelahiranku
Aku menyesal bisa melihat matahari
Bahkan aku menyesal atas kehadiranku yang tak bisa berbuat apa-apa

Masih layakkah aku berdiri di hadapanMu?
Ampuni aku jika bertanya demikian rupa.
Masih adakah waktu bagiku untuk berdiam diri di kakiMu?
Maafkanlah aku....

Ya, inilah yang kuingini.
Englau lebih mengenal diriku, lebih dari aku mengenalnya.
Lelah...
Lelah yang kurasakan...

Apa yang kuharapkan, ternyata itu yang kuingini.
Tidak begitu penting sebenarnya bagiku
Karena Engkau tahu apa yang kuperlu

Sesungguhnya Engkau telah hadir dalam hidupku
Terlalu banyak misteri yang Engkau beri dan aku tak pernah mengerti
Aku pun terlalu berharap bisa memahami rencanaMu dalam hati

Kini, di tengah gelapnya hari ini
Aku bersimpuh di duli hariratMu
Berharap rupa hinaku tak mengotori kesucianMu
Namun aku bisa melihat kemulianMu terpancar utuh bagiku.

Terangkanlah hatiku yang redup (ya Bapa)
Usaplah linangan yang tidak usai mengahmpiriku
Sudahilah pengembaraanku yang tak mendapati tempat di dunia ini
Terimalah aku di sisiMu

Aku memohon satu pinta kepada Engkau
Terima kasih ya Abba
Debu ini undur diri di hadapanMu

Hanya Engkau yang kuharap akan mengerti perkara ini

Dengan sangat rindu dan senantiasa melabuhkan jangkar harapku padaMu
Aku telah menjadi tanah di tangan Penjunanku

(every sickness has its healing)
(every doubt has its ends)
(every weakness has its strength)


*and every people has their home where they’re belong

September 16th, 2014