S a S

| You have been good to me | You have been gracious | You have been faithful | I have been given so much I can't even | Still I believe there is more | I open my hands to receive all that Your love has in store | Father, I know there is more | Power to heal and restore | Miracles wonders blessings unnumbered | Love never-ending | Love overflowing | You are bestowing, day after day after day |
♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥ ♥ ♥ ♫ ♪ ♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ † L♥ve Inside † ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫ ♪ ♫ ♥ ♥ ♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫

Jumat, 05 Februari 2016

EF (Eclipse Firework)

4.49 a.m
Hari ini aku kembali bermimpi sesuatu yang indah. Ini adalah mimpi indah ketiga yang pernah aku alami. Sebenarnya ini mimpi kedua karena dua mimpi sebelumnya aku alami di tidur yang sama dan juga telah banyak mimpi-mimpi indah lain yang pernah aku alami. Mimpi yang pertama dan ketiga aku lupa apakah pernah menuliskannya, namun aku pernah menceriterakannya. Hingga sekarang aku mengingat mimpi itu dengan jelas.
Beginilah mimpi yang ketiga ini (menurut urutannya). Aku berada di rumah namboruku, tempat di mana aku dibesarkan dan mengenal ‘SaTe’ untuk pertama kalinya-waktu itu aku sangat polos. Entah mungkin oleh karena pemberitaan gerhana matahari yang akan terjadi  2 bulan setelah penulisan cerita ini aku memimpikannya. Aku memiliki kakak kelas di IPB, satu angkatan di atas saya, namanya Eko Sipraphua Sijabat, sebut saja Bang Eko atau Eko, tapi bukan Pak Eko (pahe-paket hemat di salah satu rumah makan cepat saji). Bang Eko ini menge-post thought-nya di Path tentang gerhana. Entah kenapa hal ini memasuki alam bawah sadarku. Aku menyukai fenomena alam, khususnya fenomena di cakrawala langit. Bahkan aku ingin sekali dapat melihat Aurora Bourealis yang ada di Swedia. Aku tidak tahu apakah aku bisa menggapai kerinduanku ini. Harapanku, aku bisa melihatnya sebelum aku mati nanti. Amin.
Kira-kira malam jam 10-an kami sedang berada di teras depan dan aku menyadari melihat sebuah bulan yang bersinar sangat terang. Malam ini pun sebelum jam tidur aku melihat bulan begitu terang dan bersih. Ini adalah bulan yang sangat jernih yang aku lihat semenjak kedatanganku ke kota hujan ini Agustus tahun lalu. Jadi di dalam mimpiku pun terjadi hal yang sama. Namun tiba-tiba aku melihat sesuatu yang gelap menutupi cahaya itu sehingga yang terbentuk adalah cincin bulan. Aku sangat kecewa karena aku melihat bulan itu tertutup, namun aku juga senang karena bisa menyaksikannya. Aku melihat kejadian itu bersama dengan sepupuku, kami sungguh menikmatinya. Setelah beberapa lama saatnya, tetangga di depan rumah juga turut keluar rumahnya untuk menyaksikan hal itu, akhirnya si bulan sedikit terabaikan. Tiba-tiba keponakanku, anak sepupuku, menangis kenncang. Sepupuku bilang supaya aku menutup pintu rumah karena fenomena gerhana ini,begitu aku menyebutnya, menghasilkan sebuah suara yang tidak mengenakkan di telinga anak bayi. Beberapa pandangan teralihkan oleh menutup pintu dan tetangga.
Oleh karena hal ini adalah langka, maka seperti di mimpi sebelumnya, aku sibuk mencari kamera dan ingin mengabadikannya. Akhirnya aku memotret beberapa pergeseran cincin, setelah itu aku mematikan kameranya dan hendak berbalik masuk ke dalam rumah. Secara tiba-tiba, saat gerhana akan selesai, aku mendengar suata dentuman, sungguh nyaring. Dentuman itu adalah suara kembang api yang berasal dari gerhana itu. Jadi, ceritanya gerhana itu berubah menjadi percikan kembang api yang sungguh indah. Aku tidak sempat berpikir “What’s going on?” karena aku sungguh terpana. Begitu terperanjatnya aku sampai-sampai aku lupa bahwa hal yang sangat baik ini sangat luar biasa jika kembali direkam atau difoto. Oleh karena itu aku buru-buru ingin memotretnya. Saking tak mau melewatkan fenomena lanjutan gerhana ini, aku tak jadi melakukannya. Perlu dicatat bahwa kamera milikku sangat jadul, di mana untuk membuatnya berada pada posisi “on” memakan waktu yang lumayan. Karena aku tau akan lama, sedangkan kembang api itu hanya akan sebentar, alhasil tak ada yang aku lakukan selain terkesima dengan apa yang ada di depan mataku, begitu indah, semarak, terang dan penuh warna. Setelah mimpi itu aku terbangun.
Sekian cerita mimpi itu.
Setelah bangun dengan ingatan mimpi itu di memoriku, aku memulai ’SaTe’ku dengan berdoa di pembaringanku. Judul hari ini “Kaki yang terkelupas dan Lutut yang luka”, sungguh judul yang memilukan. Seusai membaca keseluruhan perenungan dan referensi yang ada di sana, aku menemukan kalimat “pikul salib”. Salib diterjemahkan sebagai banyak hal. Karena aku ingin lebih rinci akhirnya aku membuka “Sabda” (http://alkitab.sabda.org/dictionary.php?word=Salib) untuk mencari artinya. Tepat pada bacaanku ini, merujuk pada [Lambang], salib memiliki arti: kadang-kadang sebagai METAFORA, segala pencobaan berat dan menyakitkan, yang dijatuhkan Allah untuk menguji iman kita. Saat membaca ini tanpa terasa aku menitikkan air mataku. Betapa Tuhan ingin mengingatkanku akan sebuah perjalanan menuju “masa depanku”.
Salib itu sering kali menyakitiku. Sama seperti Petrus yang mendambakan sukacita, kebahagiaan dan kemahsyuran, aku pun mendambakannya, terutama di dalam keluargaku. Bagiku, menjadi Kristen adalah sebuah pilihan yang membawa kita pada salib yang menuju kemuliaan, sama seperti yang Kristus alami-hanya saja kita tidak menanggung dosa, sebab semuanya telah selesai Dia kerjakan. Yang kita tanggung sekarang adalah pergumulan yang menyangkut jiwa-jiwa dan menjadi garam dan terang. Salib memimpin pada sebuah jalan hidup yang penuh rintangan, namun melalui Ibrani 12:2 aku diingatkan bahwa Yesus mengabaikan kehinaanNya dan Dia TEKUN memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagiNya. Entah bagaimana caranya Yesus bisa menemukan sukacita pada salib yang sangat membebaninya itu sementara aku berusaha menghidarinya, bila perlu aku menolak salib itu. Sekarang aku telah mengetahui, tidak hanya melalui kitab para nabi namun juga mengimani, Yesus kini berada di takhta kemuliaanNya.

Ternyata apa yang kudambakan di atas, sama sekali tidak pernah dihalangi oleh Bapa. Bahkan Dia ingin sekali supaya aku bisa memperoleh dan memiliki semuanya itu, hanya saja hari ini Dia mengajarkanku bahwa aku bisa mendapat semuanya, bahkan lebih, yaitu duduk bersama-sama dengan AnakNya, jika dan hanya jika aku memikul salib yang telah ditentukan bagiku. Aku tidak boleh menyerah pada kenyataan hidup ini melainkan aku harus melaluinya bersama salibku itu. Aku tersadar bahwa selama ini aku berada pada hari-hari yang sulit karena aku menyerah pada salibNya. Sukacita itu bukan terletak pada salib, melainkan tujuan akhirku. Dahulu aku belajar bahwa Tuhan menginginkan aku dibentuk melalui proses, namun sekarang Dia telah mengingatkanku akan “Finish”, di sanalah terletak sukacita itu. Sama seperti seorang pelari yang melewati semua rintangannya demi kemenangan di akhir. Kini aku akan mencari dan memandang tujuan Allah, yakni “masa depan” melalui salibku hari demi hari hingga aku beroleh masa bersama Dia, muka dengan muka.
Mungkin aku tidak akan melihat pelangi sehabis hujan, melainkan kembang api setelah gerhana. J
January 23rd, 2016

Jumat, 15 Januari 2016

Kekasihku

11.12 am
Aku mencoba menulis tentangmu namun aku tak mampu.
Sebenarnya sama sekali tidak ada perasaan yang kubawa ke dalam hati ini untuknya.
Kekasihku telah datang menemuiku namun aku terlalu takut untuk jatuh cinta padanya.
Tak ingin kukhianati dirinya walaupun aku sendiri juga tidak tahu bagaimana jujur hatinya.
Mungkin dia bukan yang pertama tapi aku mau dia menjadi yang terakhir bagiku.
Seperti berlari jauh dan dihempas ombak, tak ada jejak dan tinggal riak.
Mungkin aku terlalu jauh baginya.
Aku ingin dia tetap ada di sisiku tapi kenyataan hidup memberi jarak di antara kami.
Hanya rindu yang membayang.
Pulang pun terkadang.
Semuanya menjadi renggang.
Rasa sayang menghilang.
Benci yang menghadang.
Aku harap ia segera datang.

January 9th ,2016

Kamis, 07 Januari 2016

Taman Bunga Nusantara

These are some picture of ours:

1. Pertama tiba sangat excited dan langsung foto keluarga, hahaha...


2. Melihat rute dan luasnya taman serta teriknya matahari beberapa pasang muka tak sedap.


3. Di tempat yang memiliki kanopy ini sejenak kami ber-adem ria dan pose dengan setil style masing-masing.


4. Membelakangi patung Dewi Kunti di gazebo Danau Angsa. Kami menjadikannya latar foto keluarga kami yang kedua :D


5. Mengadopsi quote yang pernah dibuat oleh seseorang, timbullah foto ini. Mutasem mengambil foto Merry dan Janet mengambil foto mereka berdua, di belakangnya Lenny (saya) mengambil mereka semua.
Quote itu berbunyi seperti ini: "He look at her but she look at him (another man)."
Quote foto ini: She took his photo but he took her (another woman) photo. And I took their photos. Hahaha.. *crazy me


6. Foto keluarga terakhir di dalam rumah kaca dengan 3.000 panel kaca. Woow...


7. Di lokasi piknik yang tidak dipakai untuk piknik, tapi dipakai untuk berfoto dan bermain kasti dengan buah dari Pohon Kigelia yang berbuah seperti ubi atau sosis ukuran jumbo.


Ada satu pengalaman yang tak kami sangka terjadi di tempat ini, saat kami pertama kali tiba. Pengalaman ini hanya untuk konsumsi kami semata. Tapi kami sangat bersyukur atas pengalaman ini.

Jalan-jalan ini juga meninggalkan kesan yang luar biasa. Berbagi cerita tentang kepercayaan masing-masing dan kami ditilang polisi saat pulang.

Perhatikan baik-baik perubahan wajah dari foto ke foto. Hahaha...

Thanks to all contributor;
Beny, Diego, Gabriello, Janet, Lenny, Loretta, Merry, Mutasem and Waheed.
Thanks to Merry for the camera and also being ojek. :D

Rabu, 16 September 2015

Tes Kepribadian

Tipe Realis Sosial adalah orang-orang populer yang penuh energi. Mereka dapat diandalkan, terorganisir dengan baik, dan senang menolong. Nilai-nilai tradisional penting bagi mereka. Pembentukan keluarga juga memegang peran utama dalam kehidupan mereka. Tipe Realis Sosial memiliki sifat sosial yang menonjol. Mereka selalu siap mendengarkan kegelisahan dan masalah orang lain dan tidak pikir panjang ketika dimintai bantuan. Dengan empati dan pengertian, mereka dapat merasakan apa yang dibutuhkan orang lain. Tipe Realis Sosial selalu bersedia menghargai sifat-sifat baik orang lain dan memaafkan kelemahan orang itu. Mereka yang paling mudah bergaul dari seluruh tipe kepribadian. Kontak sosial sangat penting bagi mereka.

Tipe Realis Sosial sangat sulit menerima konflik dan kritik – keharmonisan adalah ramuan mujarab bagi hidup mereka. Pengakuan dan harga diri sangat penting bagi tipe ini. Di sisi lain, diferensiasi bukan salah satu kekuatan mereka. Dalam pekerjaan dan kemitraan, mereka setia, berkomitmen, dan selalu siap jika dibutuhkan. Mereka mudah berteman karena keterbukaan dan kehangatan mereka, dan mereka memiliki lingkaran besar pertemanan. Dalam asmara, mereka bisa dipercaya, penuh perhatian, dan menyayangi pasangan mereka dengan imajinasi dan kepekaan besar. Tipe Realis Sosial menunjukkan perasaan mereka dengan terbuka dan jujur. Jika hubungan mereka putus, mereka cenderung menyalahkan diri sendiri. Itulah sebabnya mereka sulit mengakhiri hubungan sekalipun hubungan itu sudah tidak berhasil memenuhi kebutuhan mereka.

Tipe Realis Sosial adalah tipe yang lebih konservatif. Mereka memiliki tata nilai dan aturan yang kaku yang berorientasi pada tradisi yang tak lekang oleh waktu. Mereka lebih menyukai lingkungan dan proses kerja yang jelas dan terstruktur; mereka tidak menyukai terlalu banyak perubahan dan gejolak. Kekuatan mereka terletak pada diri mereka yang teliti dan dapat diandalkan dan bukan pada keluwesan dan spontanitas mereka. Tipe Realis Sosial hanya terbuka hingga batas tertentu terhadap hal-hal baru. Namun, jika Anda mencari orang untuk menyelesaikan tugas dengan dapat diandalkan dan tepat, merekalah orangnya.

Try your personality test here --> http://www.ipersonic.net/id/7.html

Kamis, 07 Mei 2015

The Heirs

Awalnya “Heirs” hanya untuk membuang kepenatan di sela-sela pekerjaan. Tak lama melihatnya, aku memutuskan untuk mengikutinya. Aku mengawalinya di cerita ke-15, tapi setelah mendapatkan serinya dengan lengkap, aku mundur ke awal sekali.
“Roma” mematrikan sebuah tulisan yang tak bisa kulupakan bahwa apapun tak akan bisa memisahkan aku dari sebuah kasih seorang Pribadi. Hari ini tepat hari berkumpul setiap minggunya. Dalam tuntunan dan “bincang2” yang disampaikan, aku mendengar bahwa semuanya yang terjadi adalah BIASA!! Tak ada yang luar biasa...
Aku mengiyakan hal itu. Saat mataku masih tertutup aku mendengar sesuatu berbisik dalam hatiku, menuntunku ke “Roma” yang tak kulupakan itu-semuanya terlalu biasa hingga itu semua tak mampu membuat aku dan Dia terpisah... Hanya Kasih saja yang luar biasa, sehingga hanya itu yang dapat membuat kami tak terpisahkan.
Kembali ke awal cerita...
Masih dalam cerita panjang dengan mata tertutup, aku teringat sosok ibu, mama(k), bunda, uni, mother... Di “Heirs” aku menemukan pernyataan yang (mungkin) tak akan salah bahwa sosok yang kusebutkan di atas adalah kata yang paling indah di dunia dalam bahasa internasional yang pertama kali kukenal.
Aku lupa kapan terakhir kali menyebutkan kata itu, namun aku juga tak pernah lupa kapan terkahir kali menyebutkannya.
Mungkin aku terdengar begitu galau aneh. Melakukan dua hal yang bertolak belakang bersamaan.
Aku mengatakan lupa kapan terakhir kali menyebutkannya karena tidak setiap hari aku menyebut namanya, bahkan dalam doa, aku lupa kapan...
Aku mengatakan tak pernah lupa kapan karena saat aku memanggil nama itu, aku mengalami ujian yang sangat berat bagi seorang anak berusia dua tahun yang sedang sakit dan hanya ingin berterima kasih atas apa yang telah dilakukannya padaku. Aku mendapat boneka “monkey”, boneka pertama dalam hidupku, kuperoleh saat aku sakit. Aku masih bisa mengingat saat itu aku mendapatkan pukulan yang tak mampu ditampung oleh hatiku yang berukuran tak seberapa.
Sejak saat itu aku takut menyebutkan kata itu lagi. Aku hanya ingin berterima kasih pada orang yang tak seharusnya menyayangiku namun yang telah melakukan yang seharusnya seorang ibu lakukan..memberikan curahan kasih sayang. Karena rasa terima kasihku itu aku harus mendapatkan pukulan dari orang yang seharusnya mendapat kasih sayang itu. Aku tahu bahwa dia sudah mendapatkan segalanya, tapi dia tidak mengerti bahwa aku hanya mendapatkan hal seperti ini hanya sekali.
Apa yang pernah kudapatkan “sekali” itu lah yang membawaku pulang kembali untuk melakukan hal yang sama berkali-kali... Dia pantas mendapatkannya. Hatiku begitu tak tahan untuk melihatnya berbaring terlalu lama. Aku bahkan tak pulang ke rumahku sendiri hanya untuk menemaninya di rumah sakit daam waktu dua hari yang kupunyai, seutuhnya... Aku selalu datang dengan berat hati, namun aku pulang dengan sukacita yang tak terkatakan, namun hal itu berarti kesedihan yang dalam buatnya. Setiap kali kami memiliki kesempatan bercerita melalui ponsel, tak pernah dia tidak terbata-bata dalam berbahasa...
Terima kasih bagiMu yang memberikan sesuatu yang “LUAR BIASA” bagiku...
Terima kasih padaMu yang memilihku untuk tak akan terpisahkan...
Terima kasih bahwa itu semua nyata adanya...
Love makes life
 May 6th, 2015

Selasa, 31 Maret 2015

Kesempurnaan

05.38 p.m.
Menurut KBBI, definisi sempurna adalah:
1 utuh dan lengkap segalanya (tidak bercacat dan bercela)
2 lengkap; komplet
3 selesai dng sebaik-baiknya; teratur dng sangat baiknya
4 baik sekali; terbaik
Menurut THESAURUS, definisi sempurna adalah
1 afdal, akmal, cukup, genap, jangkap, kafi, kamal, kamil, komplet, lengkap, paripurna, sidi, tamam, utuh, ideal, perfek, prima, transenden, utama
2 beres, selesai, tuntas;
Menurut Kamus Seasite, definisi sempurna adalah tidak cacat; utuh; lengkap; komplit.
Itu jugalah definisi sempurna yang kuketahui dan kuyakini...
Aku menyadari setelah sekian lama hidup di dalam pembelajaran dan kenyataan, selaiknya di sekolah ada teori, maka ada pula praktik, HIDUPku ini sungguhlah suatu kesempurnaan.
Dulu aku menganggap bahwa apa yang kujumpai tidak pernah menyandang gelar sempurna.
 Yang sempurna hanyalah TUHAN. Demikian.
Tidak ada yang salah. Nyata benar bahwa Dia sempurna adanya.
Namun kini, mataku telah terbuka dengan sebuah pengertian yang baru, bahwa setiap yang kujumpai memiliki kesempurnaannya sendiri.
Suatu keluarga dengan tanpa ibu atau ayah atau kakak atau adik, bukanlah suatu kesempurnaan.
Hidup dalam kekurangan pun bukan kesempurnaan.
Tinggal dengan harus “menumpang” di rumah keluarga yang lain tak dapat dikatakan sempurna.
Memiliki nilai indeks prestasi kurang dari 4 juga tidak sempurna.
Banyak hal-hal yang senantiasa kujumpai dan kusematkan dengan kata “tidak sempurna”.
Ada sesuatu yang selama ini menghalangi pandanganku dari sebuah kata sempurna yang dimiliki oleh apa yang aku alami sendiri.
Bukan dengan mata, tapi dengan hati pula seharusnya aku melihat.
Kenapa aku harus iri, kenapa aku harus marah, dan kenapa aku harus tak mengakui bahwa banyak peristiwa dan hal-hal tertentu bukanlah kepunyaanku?!
Aku harusnya berpikir bahwa tidak semua peristiwa dan hal-hal tertentu yang kualami, mereka juga alami. Kenapa mereka harus iri, marah atau tak mengakui?!
Di sanalah letak kesempurnaan itu. Dia begitu sempurna memilihku untuk tidak hidup dengan “kesempurnaan” (yang kukenal dulu). Menetapkanku untuk tidak pernah melihat ibu kandungku hingga aku mungkin usia 30. Menempatkanku di tengah-tengah tempat yang terasa asing bagiku. Membiarkanku mengalami jatuh cinta pada pria yang tak pernah mencintaiku. Melepaskan seluruh dambaanku akan kasih sayang ibu. Menahan hasrat akan cita-cita besarku.
Semuanya digantikan, digantikan dengan sesuatu yang tak dinyana olehku.
Dia begitu sempurna memilihku mengenalMu. Dan sangat paripurna apa yang telah dikerjakan bagiku. Memiliki Dia saja sempurna bagiku. Dengan seluruh cinta, cipta, rasa, karsa aku bisa menjalani hidup bersama siapa saja, memiliki apa saja, melepaskan apapun, meninggalkan sesuatu, dan mengalami semua yang Dia kehendaki bagiku.
Betapa sempurnanya aku di saat aku ketahui bahwa tanpa ibu pun aku mendapat kasih sayang (mungkin) dari 2 paman dan atau 3 bibi sekaligus. Sangat sederhana, namun butuh waktu yang lama bagiku untuk memahami dan menyadari kedalaman pekerjaanNya.
Yang kumaksud disini adalah PEKRJAAN-NYA yang telah dan akan dilakukan bagiku dan bagimu.
Sebenarnya masih banyak hal yang tidak sempurna.
Bapa itu sempurna dan kita diminta HARUS sempurna sepertiNya. Sulit, tapi Dia bilang harus!!!
Jika kita hendak sempurna, Dia menyuruh kita menjual segala milik kita dan MEMBERIkan kepada orang miskin, dengan demikian beroleh harta di sorga. Tak gampang melakukannya dengan sifat kemanusiaan kita yang terbatas ini.
Sebuah kesempurnaan bisa berubah menjadi ketidaksempurnaan jika dan hanya jika aku tidak memiliki KASIH. Bahkan aku tak akan menjadi berguna.
Segala pengetahuan dan nubuat yang ada padaku tidaklah sempurna. Hal inilah yang sedang terjadi, bahwa aku terlambat menyadari tentang “kesempurnaan” itu sendiri. Bahkan nubuat (visi) yang kubuat tidak rampung. Sudah barang tentu rumpang. Tidak sempurna.
Pengenalanku akan Pribadi yang sempurna belumlah sempurna. Aku tidak khawatir akan hal ini karena NANTI aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.
Ketaatanku belum sempurna. Sangat jelas aku rasa.
Aku sendiri masih didoakan supaya aku menjadi sempurna.
Diriku belum sempurna. Aku diminta untuk mengusahakannya.
Ketekunanku pun demikian.
Bahkan dikatakan tidak satupun dari pekerjaanku yang didapatiNya sempurna di hadapanNya.
Jika ditelisik lebih dalam, pekerjaanNya lah yang sempurna dan pekerjaanku yang tidak sempurna. Tidak boleh lagi ada bantahan. Titik. Final.
Dengan kesempurnaan jalan-Nya dan kemurnian janji-Nya aku telah memperoleh apa yang dikatakan bahwa “Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap (1 Kor 13:10)”
Amin.
March 19th, 2015 

Selasa, 10 Maret 2015

Mimpi

4.46 a.m.
Setelah semalam aku mengalami mimpi yang sangat aneh, hari ini aku mengalami mimpi yang sangat indah.
Aku bertanya-tanya tentang arti mimpi itu. Sangkaku, mungkin aku terlalu rindu atau mungkin dia yang terlalu memikirkanku.
Yang pasti apa yang kualami benar-benar membuatku takjub.
Saat aku tak tau ke mana hatiku akan pergi...ke mana cintaku akan berlabuh...yang ‘ku tau hanyalah Engkau masih saja di dekatku, memastikan bahwa perginya hati dan cintaku tepat kepada siapa yang Kau mau.
Aku bergumam, “Tuhan, akankah mimpi itu berubah menjadi nyata?”
Aku mau dan sangat ingin itu terjadi di kehidupanku yang akan datang.
Sampai kini aku bisa merasakan betapa bahagianya aku saat itu.
Aku bisa menyenangkannya, membawanya ke tempat yang dia belum pernah datangi, menyajikan apa yang belum pernah ia cicipi, memberikan apa yang dia ingini, bahkan mengetahui perasaannya...
Dia juga melakukan hal yang sangat manis kepadaku. Mendekapku hangat, memegang tanganku erat, menghalau saat hewan yang kubenci mendekat, semua adalah hal-hal yang kecil, namun apa yang dia lakukan itu juga belum pernah kurasakan sebelumnya.
Sampai akhirnya kami tiba di suatu tempat, di mana kami duduk berdua dan aku berkata padanya “Kita akan pergi ke kota Z suatu hari nanti”. Entah apa yang terlintas di pikiran kami...kami menangis, aku menangis dalam pelukannya.
Tangisanku adalah tangisan bahagia (hanya sesaat) dan selebihnya adalah tangisan perpisahan.
Sampai saat hingga aku berusaha mengingat-tanpa membumbui cerita ini, bahkan menuliskannya, yang tersisa dari semuanya adalah air mata...
Aku tau, sebenarnya akulah yang sangat merindu...
Hanya bertelut, dan membawa namanya dalam doa yang aku bisa...
March 10th, 2015