S a S

| You have been good to me | You have been gracious | You have been faithful | I have been given so much I can't even | Still I believe there is more | I open my hands to receive all that Your love has in store | Father, I know there is more | Power to heal and restore | Miracles wonders blessings unnumbered | Love never-ending | Love overflowing | You are bestowing, day after day after day |
♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥ ♥ ♥ ♫ ♪ ♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ • * ¨ * • ♥♫ ♪ ♥ ♥♪ ♫ † L♥ve Inside † ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫ ♪ ♫ ♥ ♥ ♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫♥ • * ¨ * • ♫ ♪ ♥ ♥ ♪ ♫

Jumat, 27 Februari 2015

Hari Kematian

1.19 p.m.
Aku tidak tahu bila hari kematianku.
Tapi satu hal yang pasti ada seorang yang kukasihi, yang mulanya tidak kukenal, dia akan datang pada saat kematian/pemakamanku. Aku telah membuat janji dengannya.
February 23rd, 2015

Kamis, 27 November 2014

"Siapa?" bukan "Mengapa"

07.08 a.m.

“Siapa?” bukan “Mengapa” adalah sebuah judul artikel sederhana yang mengubah cara pandangku hari ini. Kerap sekali setiap orangyang dirundung dalam sebuah pergumulan menyanyakan “Mengapa ini bisa terjadi?”, “Mengapa harus aku yang mengalami?”, “Mengapa ini...” dan “Mengapa itu....”
Kata tanya ini merupakan kata yang sama sekali kusukai dan sering kulontarkan ketika aku dirundung pergumulan. Ya, kata ini begitu fasih di bibir dan terkesan memiliki pertanyaan dan jawaban yang sama dramatisnya dengan permasalahan kita.
Namun hari ini aku mendapatkan sebuah pemahaman baru, tidak lagi bertanya”Mengapa?” melainkan “Siapa?”
Melalui kata “Siapa?” ini aku menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan“Mengapa?”ku bahkan aku juga mendapati ada sebuah jawaban yang tidak pernah memiliki pertanyaan. Hal ini tidak dikarenakan akibat kosongnya atau tidak ada pertanyaan sama sekali, melainkan karena saking sukarnya jawaban atas pertanyaan itu sehingga dia tidak digolongkan sebagai sebuah pertanyaan (Apakah mungkin ada pertanyaan semacam itu? Entahlah.)
Hal pasti yang kualami, saat aku mengalami sebuah galian tekanan akibat masa lalu suram yang telah terkubur dalam dan bertanya “Siapa?” aku mengerti bahwa Dia adalah Pribadi yang berdaulat atas masa lalu, masa kini dan masa depanku. Saat aku lemah-tak berdaya menghadapi setiap cemooh dan tak tahu harus berbuat apa lagi, aku tahu bahwa Dia satu-satunya sumber kekuatan dan penyembuh batinku. Bahkan saat aku kehilangan pengharapan, aku tersandung oleh “Siapa?”, yaitu Dia yang menjadi sauhku.

November 24th, 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Service Motor

Happy Monday
“Mau apa Mbak?”
Service motor Mas...”
“Apa aja?”
“Ganti oli sama minta dicek saluran olinya karena suka berlebihan olinya keluar, trus kalau tanjakan terlalu panjang dia suka mati di tengah jalan, jadi minta dinaikin gasnya boleh? Oya, sama lampu belakangnya mati juga.” (Aku mengatakannya sambil sumringah, mungkin mas-masnya mikir, okeh bener).
“Ok, tunggu di sana aja” (sambil menunjuk ke kursi). “Anak-anak (memanggil karyawannya), ini, Mbaknya mau dicek motornya.”
(Sambil menyerahkan motor) “Monggo Mas...”
“Mbaknya orang mana toh? Bisa boso Jowo toh?”
“Saya orang Medan. Hehehe...sedikit”
Sambil memandang sekeliling ruangan bengkel, pandanganku terusik dengan pipa air yang bocor dan menyemburkan air ke arah jalan. Semburan air membuat orang yang melintas sedikit membungkukkan badan dan berusaha menghindar, ya walaupun sebenarnya mereka akan tetap basah dan tidak bisa menghindar karena jalannya cukup tidak luas.
Aku tak mampu menahan senyum saat sebuah Tossa (Transportasi motor roda tiga) yang mengangkut beberapa orang, melewati semburan air tersebut. Poin lucunya ada pada kenakalan pengemudi. Dia sengaja memperlambat lajunya saat badannya telah melewati semburan, namun ekornya (yang berisi muatan teman-temannya) masih terkena semburan air. Semua (tiga) temannya yang ada dalam angkutan menjadi bertingkah seperti seseorang yang meringkuk akibat ditangkap polisi, guna menutupi badan dari air pipa. Hal itu sungguh membuatku senang dan tawa pun pecah di mulutku. Salah seorang pelanggan bengkel melihat apa yang kutertawakan, dan ia pun ikut menyungging senyum. Aku bahagia bisa berbagi suka dengannya.
Kembali ke bengkel. Aku bersyukur bisa memberi perawatan buat motor Paman, yg dikasih buatku, yang sudah kurencanakan sejak Kamis yang lalu. Hal yang lebih luar biasa lagi, ternyata empunya bengkel adalah seorang yang nice person to share.
Kami bicara banyak di sela-sela ganti oli. Aku bertanya tentang kotak hitam di bawah stang motor, yang ternyata adalah filter angin. Dia bilang dia kurang paham motor, kemudian aku menyela “apalagi saya”.
Setelah melalui cerita sana-sini, tentang pekerjaan (sebelumnya), iparnya yg tinggal di P. Siantar, Pelanduk, “2 pewayangan”, skripsi, penemuan, bakteri, Botani, candi yang lebih besar dari Borobudur dan Piramida yang lebih besar dari pada yang di Mesir (dan untuk memastikannya aku bertanya, “Itu nyata atau??” dan jawabnya: “Ya, nyata”), ikan seperti bandeng, Pak Atmojo, Sirsak yang diterimanya kemarin, hobi memancing, hingga ada beberapa istilah yang baru saja kurasa patut untuk ku”pegang”, yaitu “Prana Manusia”
Hari yang tidak biasa. Dia juga menceritakan pengalamannya beberapa hari yang lalu ditabrak motor oleh anak-anak, yang membuatnya mengejek anak itu untuk mengulanginya kembali. Walaupun itu berupa sindiran, aku merasa itu sangat tulus dari hatinya agar dia tidak mengulanginya. Dia bahkan menawarkan untuk memasukkan motor si anak yang ringsek dan bengkok stang, ke bengkel yang dikelolanya.
Dalam satu session percakapan dengan kata “Trauma”, dia berusaha menyakinkanku untuk melakukan seperti yang dia lakukan untuk dirinya, yaitu mengejek diri sendiri. Jujur, aku tidak bisa. Semua butuh waktu. Umumnya, aku mengalami “pelecehan” lingkungan terlebih dahulu baru kemudian aku bisa “mengejek” diri sendiri. Orang aja bisa, kenapa aku engga??
Satu yang kusuka, pada akhirnya, dia mengajakku bergabung untuk memancing ikan yang seperti ikan bandeng, di mana jika di Jawa saja ikan itu tidak lebih dari sejengkal jariorang dewasa, namun di sini dapat tumbuh hamper selengan orang dewasa panjangnya. Yeeey, asyikk.
Hahaha...ternyata untuk menikmati hidup itu sederhana, begitu katanya. Aku pun setuju. Dalam hidup ini, untuk bisa berbahagia, cukup perhatikan hal-hal kecil yang terjadi disekitar kita, atau bayangkan saja “bagaimana mungkin seekor cacing yang lemah dapat melubangi tanah” (begitu dia mengumpamakannya).
Thanks God.
September 22nd, 2014  

Senin, 06 Oktober 2014

Dikenalnya

4.34 a. m.
Menjadi terkenal, bagi orang sepertiku, pasti menyenangkan, apalagi sebelumnya aku tak pernah menjadi public figure. Namun, pada hari ini aku dikenal karena berita yang tidak baik.
Entah apa yang ada di benakku. Sehari sebelum kejadian, pada malam menjelang, tanpa kusadari aku teringat akan peristiwa kematian. Kematian yang membawa perpisahan.
Ingatan itupun tak pelak membuat sesak di tenggorokan. Ya, aku mengeluarkan isi lambung yang sudah 6 jam diolah. Tak ada yang tersisa, hanya sakit dan air mata.
Keesokannya berjalan seperti sebuah rutinitas dengan tambahan beberapa kejutan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Rasanya seperti dihantam dan dihujam dengan batu besar. Aku berusaha tetap tenang dan ingin semuanya cepat berlalu.
Bertemu dengan orang yang kukenal dan kukasihi karena aku percaya dia dititipkan untuk sebuah ujian ketulusan, itu tak sedikitpun menyurutkan kecemasanku. Bahkan “Kecemasan yang penuh damai” tak lagi dalam genggaman dan aku melupakannya.
Sejak saat itu, aku tak henti-hentinya ‘berpikir keras’, bagaimana bila ini.... bagaimana bila itu... Dua hari setelah kejadian akhirnya telinga ini mendengar apa yang kukhawatirkan. Aku menjadi ‘terkenal’. Semakin berat rasanya apalagi setelah mengetahui bahwa bukan hanya satu, tetapi dua hal yang menjadi beban bagiku.
Aku akhirnya menumpahkan sebuah titik yang tak kuinginkan saat itu. Terlalu lama bertahan dan berusaha aku berdiri sendiri, namun batas ketahanan itu habis dan aku menangis, sebab hari itu apa yang aku kerjakan tak ada yang benar, salah ini dan salah itu. Ternyata aku tak mampu tegar dan konsisten di saat menjalani pergumulan.
Hati kecil ini ingin mendengar kata kesepakatan namun hati kecil yang paling dalam kuat untuk menyatakan apa yang seharusnya. Lama bergumul dengan hati kecil dan hati yang dalam membuat migrainku kambuh. Sakitnya lebih dari biasanya.
Begitu pulang, hanya pembaringan yang kuinginkan. Berusaha menghilangkannya dengan memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat. Berharap dia pergi dan hilang, namun begitu terjaga tak ada yang berubah. Aku berusaha melakukan apapun dan mencari kesibukan lain, masih dengan harapan yang sama.
Dalam hatiku aku merasakan bahwa tak ada gunanya aku mencari ‘kesenangan’ dan penghiburan di tempat lain. Aku akan mencarinya di tempat yang telah teruji oleh waktu, sebab aku pernah mengalami dan melakukannya. Aku bangkit dan duduk. Aku mulai membuka bacaan malam itu sekalipun waktu belum menunjukkan saatnya. Saat melihat judul aku berpikir, mungkin ini bukan jawabah, namun tak ada salahnya. Baris demi baris mulai menyentuh hati yang dalam. Bahkan lebih lagi saat aku melihat pengantar, ya pengantar yang benar-benar mengantar aku untuk benar-benar mengerti dan dipengaruhi olehnya.
Tempat itu kusukai dan akhirnya aku sangat rindu melihat dari asalnya. Kembali aku membaca dengan berulang-ulang, aku sangat menyukainya. Aku terenyuh sebab dia mengenal aku dengan sangat benar dan real time. Aku ingin mengulangnya lagi dan lagi, rasa sakit itu tak kunjung redam malah semakin bertambah. Harapanku tetap kupertaruhkan di dalamnya. Sampai akhirnya aku didatangi kembali oleh seseorang yang melihatku ‘terkenal’.
“Kenapa merah?”. “Karena ini”. Saat dia konfirmasi apa yang dilihatnya dengan apa yang kualami, aku mengiyakan semuanya. Ternyata beban itu bukan aku seorang yang merasakannya, dia juga. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu dan didorong oleh kerinduan yang sama, aku membacakan sepenggal apa yang baru saja kubaca.
Nyaris empat jam from A to Z, kami menyudahi kisah itu malam tadi. Kembali di pembaringan, aku masih tak habis pikir, sungguh dia ada di dekatku. Dia menyaksikanku. Dia mengerti dan peduli. Aku kembali membacanya di tempat yang kusukai dan aku mengeluarkan titik yang kuinginkan. Titik yang menjadi alasan baginya untuk datang. Aku telah patah hati. Aku telah membuat titik itu di pembaringanku, aku berharap dia mengusapnya bagiku.
Tak ada yang mampu kukatakan. Lewat tulisan inilah aku mampu menceritakan pengalaman hebatku dengannya. Dia bahkan telah menemaniku menuliskan ini semuanya.
Pagi ini sungguh baru bagiku. Aku kembali mendapatkan kejutan yang aku pikir sudah ‘habis’ atau kejutan zonk. Ternyata tidak. Aku memperoleh hadiah yang besar atas harapanku. Harapan itu nyata. Pagi ini migrainku hilang dan tak ada lagi.
Sungguh dia telah menjadi pengungsianku. Menjadi tempatku bersandar, bahkan aku sering kali menjadikannya tempat yang terakhir, tempat terfavorit if I have no where to go.
Inilah Mazmur yang menjadi kegiranganku:
(39-2) Pikirku: "Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku; aku hendak menahan mulutku dengan kekang selama orang fasik masih ada di depanku."
(39-3) Aku kelu, aku diam, aku membisu, aku jauh dari hal yang baik; tetapi penderitaanku makin berat.
(39-4) Hatiku bergejolak dalam diriku, menyala seperti api, ketika aku berkeluh kesah; aku berbicara dengan lidahku:
(39-5) "Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!
(39-6) Sungguh, hanya beberapa telempap* saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela
(39-7) Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti.
(39-8) Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap.
(39-9) Lepaskanlah aku dari segala pelanggaranku, jangan jadikan aku celaan orang bebal!
(39-10) Aku kelu, tidak kubuka mulutku, sebab Engkau sendirilah yang bertindak.
(39-11) Hindarkanlah aku dari pada pukulan-Mu, aku remuk karena serangan tangan-Mu.
(39-12) Engkau menghajar seseorang dengan hukuman karena kesalahannya, dan menghancurkan keelokannya sama seperti gegat; sesungguhnya, setiap manusia adalah kesia-siaan belaka. Sela
(39-13) Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku! Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
(39-14) Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!"
Aku telah menjadi terkenal. Dia sangat mengenalku.
Aku menerimanya Kasih, terima kasih :)

*Kelas Kata :: Kata Benda, Kata Kerja
  Keluarga Kata :: menelempap, setelempap, telempap
  Kata dalam TB :: 1x dalam 1 ayat (dalam PL: 1x dalam 1 ayat)
  [KBBI]   te=lem=pap n tapak tangan;
                 me=ne=lem=pap v mengukur dng telempap;
                 se=te=lem=pap num selebar atau seluas telapak tangan: lebarnya (tebalnya);
                 diberi sejari hendak ~, pb orang yg diberi sedikit ingin lebih banyak lagi
(Sumber: SABDA)
October 3rd, 2014

Selasa, 30 September 2014

Sungguh tanpa dasar

05.30 p.m.

Seringkali aku jatuh ke dalam pencobaan
Aku sangat malu kepadaMu
Apalagi saat aku ingat betapa hal itu melukai hatiMu
Aku merasa tak ada teman untuk bercerita
Aku terlalu sungkan untuk berbagi
Semua hanya karena ego yang tinggi
Tiba-tiba sesuatu melintas di pikiranku
Sesuatu yang tiada kusangka
“Dia, yang mencintaiku dengan hati penuh...
Dia mencintaiku tanpa dasar.”
Tak ada satupun alas an bagiku untuk dicintai, namun
Dia sungguh berani melakukannya terhadapku,
Dia bahkan mutlak menginginiku.
Dia hanya menaruh aku seorang dalam hatinya.
Dia ingin aku menjadi yang utama baginya.
Saat petang datang, malam membayang dan pagi menjelang,
Hanya aku, aku, dan aku yang ada di benaknya.
Aku tak menyadari hal itu sampai akhirnya aku merasa malu
Malu bahwa tak ada dasar bagiku
Dasar yang menjadi alasan untuk dicintai
Semua hanya karena kasihnya
Kasihnya yang agung dan mulia
Kasih itu adalah Dia
Dia kekasihku, Dia ingin menjadi bagian yang utuh dan penuh dalam hidupku.
Ampuni aku yang sering melupakanMu.
Aku hanya tak memiliki dasar.
Terima kasih telah mencintaiku.
Mencintaiku tanpa berdasarkan apa adanya aku.
Engkau jualah dasarku mencintaiMu
UntukMu yang dengan hati penuh mencintaiku tanpa dasar.
September 27th, 2014

Jumat, 26 September 2014

Temukan aku kembali

7.32 p.m.
Temukan ‘ku kembali
Sebab aku mencintai hidup
Dahulu aku mencintainya karena kita bersama
Sekarang aku nyaris kehilangannya.
Engkau yang menjadi hidupku, ke manakah perginya?
Aku tak tahu bahwa aku kehilangan jejak
Berada di persimpangan, tak tentu arah
Dingin menusuk tulang, tiada cahaya, gelap mencekam

September 25th, 2014

Senin, 22 September 2014

Kekonyolan kami


 Thank God :')

Gbr atas : Final Piala Dunia 2014

Gbr tengah : Ga sengaja jd Traffict light

Gbr bawah : Such a (farewell) party maybe :(